IPTEK
adalah akronim dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dimana dari akronim
tersebut mempunyai artinya sendiri, baik Ilmu, Pengetahuan, maupun Teknologi.
Ilmu dapatlah dipandang sebagai
produk, sebagai proses, dan sebagai paradigma etika.
- Ilmu dipandang sebagai
proses karena
ilmu merupakan hasil dari kegiatan sosial, yang berusaha memahami alam,
manusia dan perilakuknya baik secara individu atau kelompok.
- Ilmu sebagai produk artinya ilmu diperoleh
dari hasil metode keilmuan yang diakui secara umum dan sifatnya yang universal.
Oleh karena itu ilmu dapat diuji kebenarannya, sehingga tidak mustahil
suatu teori yang sudah mapan suatu saat dapat ditumbangkan oleh teori
lain.
- Ilmu sebagai paradigma
ilmu, karena
ilmu selain universal, komunal, juga alat meyakinkan sekaligus dapat
skeptis, tidak begitu saja mudah menerima kebenaran.
Istilah ilmu yang dikemukakan di atas berbeda dengan
istilah pengetahuan. Ilmu diperoleh melalui kegiatan metode ilmiah
atau epistemology. Jadi, epistemology merupakan pembahasan bagaimana
mendapatkan pengetahuan. Epistemologi ilmu tercermin dalam kegiatan
metode ilmiah. Sedangkan pengetahuan adalah pikiran atau pemahaman di luar atau
tanpa kegiatan metode ilmiah, sifatnya dapat dogmatis, banyak spekulasi dan
tidak berpijak pada kenyataan empiris. Sumber pengetahuan dapat
berupa hasil pengalaman berdasarkan akal sehat (common sense) yang disertai
mencoba-coba, intuisi (pengetahuan yang diperoleh tanpa penalaran) dan wahyu
(merupakan pengetahuan yang diberikan Tuhan kepada para nabi atau utusan-Nya).
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat
pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah
ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari
segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah
yang telah mapan,dll.
Kemiskinan
dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
·
Gambaran
kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan
pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi
kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
·
Gambaran
tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal
ini termasuk pendidikan dan informasi.
Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
Gambaran kemiskinan jenis ini lebih mudah diatasi daripada dua gambaran yang
lainnya.
·
Gambaran tentang
kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai.
Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di
seluruh dunia. Gambaran tentang ini dapat diatasi dengan mencari objek
penghasilan di luar profesi secara halal. Perkecualian apabila institusi
tempatnya bekerja melarang.
Contoh kasus dan pengalaman berita
yang saya lihat adalah sebagai berikut, Warga Kampung Cijeleren, Desa Mekarsari,
Kecamatan Bayongbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengaku merasa dilecehkan
Dinas Pendidikan Kabupaten Garut.
Menurutnya,
instansi itu sama sekali tidak menghargai jerih payah anaknya, Anggi Faujiyah
Azmi, siswa kelas VI SD Negeri Mekarsari 1 Bayongbong yang telah mengharumkan
nama Garut di tingkat nasional.
Ia
mengatakan, Anggi Faujiyah Azmi berhasil menjadi juara pertama dan menyumbangkan
medali emas untuk Kabupaten Garut pada ajang Olimpiade Olahraga Siswa Nasional
(O2SN) tahun 2010 tingkat Provinsi Jawa Barat untuk tingkat SD.
Selain
itu, pada ajang O2SN tingkat nasional, Anggi juga berhasil menyumbangkan medali
perunggu pada cabang tenis meja.
Ironisnya,
kata dia, nama Anggi tidak terdaftar dalam deretan nama 100 siswa berprestasi
di Kabupaten Garut yang memperoleh penghargaan dan bonus dari Pemkab Garut.
"Sebagai
orangtua, kami benar-benar kecewa atas sikap Disdik yang sama sekali tidak
menghargai jerih payah anak kami untuk Garut," kata Naryana saat ditemui
di rumahnya, Minggu (26/12/2010).
Menurutnya,
jika dibandingkan siswa lainnya yang masuk dalam daftar 100 siswa berprestasi
di Garut, anaknya dapat dikatakan salah satu siswa yang meraih prestasi di
tingkat nasional.
Naryana
pernah mempertanyakan alasannya kepada pejabat Bidang TK-SD. "Lucunya,
saat itu jawaban dari pihak Disdik enteng saja. Anggi tidak masuk daftar 100
siswa berprestasi penerima penghargaan karena terlewat untuk diajukan,"
ujarnya.
Saat
akan dikonfirmasi tentang keluhan Naryana itu, Mahmud selaku Kabid TK-SD Disdik
Kabupaten Garut sulit untuk dihubungi. Ponselnya tidak aktif. Adapun Totong,
Kabid Pemuda dan Olahraga, yang dihubungi melalui telepon selulernya sama
sekali tidak mau memberikan komentar.
Secara
terpisah, Official O2SN SD Kabupaten Garut, Tito, menjelaskan saat dihubungi
bahwa pihaknya sudah mengirim data atlet peraih medali jauh hari sebelumnya
melalui penanggung jawab cabang olahraga (cabor) masing-masing.
Bahkan,
Tito mengakui bahwa untuk atlet tenis meja, data peraih medali perunggu tingkat
nasional (Anggi) langsung diberikan kepada Totong, Kabid Pemuda dan Olahraga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar