Apa sih Rasulan itu?
Rasulan adalah budaya bersih
desa dalam 1 tahun sekali yang di adakan oleh warga-warga lokal dari kabupaten
Gunungkidul daerah Istimewa Yogyakarta, biasanya Rasulan ini di adakan setelah
panen dan Rasulan juga
di peruntukan sebagai bentuk ucap syukur terhadap sang pemberi berkah dan
budaya ini sudah berlangsung sangat lama, dan uniknya acara kebudayaan ini di
adakan perdusun dan tiap dusun memiliki cara yang berbeda dalam merayakan
rasulan ini.
Dalam teknis pelaksanaannya
pemerintah desa membentuk panitia Rasulan dan kemudian panitia rasulan
merencanakan acara, waktu
pelaksanaan serta jumlah biaya yang dibutuhkan . Setelah teknis
pelaksanaan di putuskan kemudian biaya pelaksanaan dibebankan kepada warga
masyarakat perkeluarga.
Besar kecilnya biaya yang ditanggung warga tergantung beberapa hal :
1. Hiburan
acara
2. Bancakan
atau makanan yang di beli dan di bagikan ke anak-anak di dusun tersebut
3. Jumlah
pemasak makanan
Rasulan itu juga merupakan bentuk pengerat tali
silaturahmi antara warga sekitar agar warga peduli antara satu dengan yang
lain, di kebudayaan rasulan ini memiliki banyak keunikan, keunikan yang pertama
adalah malam sebelum acara kebudayaan rasulan pasti akan selalu di adakan acara
yang namanya Kemit, Kemit yaitu dimana anak-anak, pemuda-pemudi dan orang tua
berkumpul pada satu tempat yang bernama balai desa, untuk makan bersama dan
saling bercengkrama satu dengan yang lain, ke unikan yang lain adalah saat
rasulan mau di mulai atau sore sebelum acara di mulai, anak-anak di bawah umur
15 tahun di kumpulkan dan membawa tempat makanan dan bagi yang di atas umur 15
tahun harus ada yang mewakili perkeluarga untuk membawa makanan yang lumayan
banyak sebagai bentuk syukur, dan setelah berkumpul nanti akan ada kepala desa
yang akan membacakan doa dan membuka acara dengan simbolis yaitu mensuir-suri
daging ayam dan dibagikan ke anak-anak yang ada disitu, dan setelah itu di
ikuti dengan warga yang lain, samai anak-anak nantinya mendapatkan makanan yang
banyak.
Setelah
tahap-tahap sebelum rasulan itu selesai, barulah acara puncaknya yaitu pada
malam hari yang biasanya bertempai di balai desa, warga akan berkumpul di situ
untuk menyaksikan banyak hiburan, ada hiburan tarian ada hiburan campursari,
tayub dan lain-lain, dan disinilah yang ditunggu warga, mereka akan menari
bersama dan akan berpesta sampai pagi, tapi sekarang kebudayaan Rasulan ini tidak hanya di
hiasi tarian tarian dari orang dewasa saja, tapi sekarang Rasulan ini lebih terbuka terhadap
anak-anak untuk menyanyi, menari dan lain sebagainya.
Pada
saat ini Rasulan masih dan saya percaya akan selalu di adakan sebagai bentuk
pelestarian budaya di Gunungkidul yang notabenya adalah kampung halaman saya,
kebudayaan ini adalah kebudayaan yang sangat bai dan seterusnyapun begitu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar