Chrome Pointer

Blog Posts

Minggu, 06 Oktober 2013

Rasulan khas Gunungkidul

Apa sih Rasulan itu?

Rasulan adalah budaya bersih desa dalam 1 tahun sekali yang di adakan oleh warga-warga lokal dari kabupaten Gunungkidul daerah Istimewa Yogyakarta, biasanya Rasulan ini di adakan setelah panen dan Rasulan juga di peruntukan sebagai bentuk ucap syukur terhadap sang pemberi berkah dan budaya ini sudah berlangsung sangat lama, dan uniknya acara kebudayaan ini di adakan perdusun dan tiap dusun memiliki cara yang berbeda dalam merayakan rasulan ini.

Dalam teknis pelaksanaannya pemerintah desa membentuk panitia Rasulan dan kemudian panitia rasulan merencanakan acara, waktu pelaksanaan serta jumlah biaya  yang dibutuhkan . Setelah teknis pelaksanaan di putuskan kemudian biaya pelaksanaan dibebankan kepada warga masyarakat perkeluarga.

Besar kecilnya biaya yang ditanggung warga tergantung beberapa hal :
1.       Hiburan acara
2.       Bancakan atau makanan yang di beli dan di bagikan ke anak-anak di dusun tersebut
3.       Jumlah pemasak makanan

Rasulan itu juga merupakan bentuk pengerat tali silaturahmi antara warga sekitar agar warga peduli antara satu dengan yang lain, di kebudayaan rasulan ini memiliki banyak keunikan, keunikan yang pertama adalah malam sebelum acara kebudayaan rasulan pasti akan selalu di adakan acara yang namanya Kemit, Kemit yaitu dimana anak-anak, pemuda-pemudi dan orang tua berkumpul pada satu tempat yang bernama balai desa, untuk makan bersama dan saling bercengkrama satu dengan yang lain, ke unikan yang lain adalah saat rasulan mau di mulai atau sore sebelum acara di mulai, anak-anak di bawah umur 15 tahun di kumpulkan dan membawa tempat makanan dan bagi yang di atas umur 15 tahun harus ada yang mewakili perkeluarga untuk membawa makanan yang lumayan banyak sebagai bentuk syukur, dan setelah berkumpul nanti akan ada kepala desa yang akan membacakan doa dan membuka acara dengan simbolis yaitu mensuir-suri daging ayam dan dibagikan ke anak-anak yang ada disitu, dan setelah itu di ikuti dengan warga yang lain, samai anak-anak nantinya mendapatkan makanan yang banyak.

                Setelah tahap-tahap sebelum rasulan itu selesai, barulah acara puncaknya yaitu pada malam hari yang biasanya bertempai di balai desa, warga akan berkumpul di situ untuk menyaksikan banyak hiburan, ada hiburan tarian ada hiburan campursari, tayub dan lain-lain, dan disinilah yang ditunggu warga, mereka akan menari bersama dan akan berpesta sampai pagi, tapi sekarang kebudayaan Rasulan ini tidak hanya di hiasi tarian tarian dari orang dewasa saja, tapi sekarang Rasulan ini lebih terbuka terhadap anak-anak untuk menyanyi, menari dan lain sebagainya.

                Pada saat ini Rasulan masih dan saya percaya akan selalu di adakan sebagai bentuk pelestarian budaya di Gunungkidul yang notabenya adalah kampung halaman saya, kebudayaan ini adalah kebudayaan yang sangat bai dan seterusnyapun begitu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar