Chrome Pointer

Blog Posts

Selasa, 08 Oktober 2013

KERIS ( Tugas Ke 2 - Ilmu Budaya Dasar )




Keris menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah senjata tajam bersarung, ber ujung tajam dan bermata dua, keris berbentuk berkeluk-kelu, tapi ada juga yang lurus. Tapi menurut id.wikipedia.org keris merupakan senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantarabagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berkelok-kelok, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu terlihat serat-serat lapisan logam cerah pada helai bilah.

Menurut sejarah, budaya keris mulai dikenal di Jawa sekitar abad ke-6, pada awal Kerajaan Mataram Kuno. Ini terbukti dengan ditemukannya prasasti di Desa Dawuku, Kecamatan Grabag, Magelang, Jawa Tengah. Pada prasasti itu terdapat ukiran berbagai bentuk senjata tajam, termasuk keris.

Pada zaman Majapahit (abad ke-14), budaya keris mengalami perkembangan cukup pesat. Buku Ying Yai Seenglan, merupakan laporan hasil kunjungan Ma-Huan ke Majapahit pada abad ke-15 bersama Laksamana Cheng Ho. Dalam buku itu dijelaskan para lelaki di Majapahit, tua-muda memakai senjata tikam seperti keris yang saat ini dikenal.

Penggunaan keris menyebar pada masyarakat penghuni wilayah yang dipengaruh oleh Majapahit, seperti di Pulau Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Pulau Mindanao). Keris Mindanao dikenal sebagai kalis. Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan.Tetapi Keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia sejak tahun 2005, dan oleh karna itulah saya membahas tentang keris ini.

Dalam pembuatanya, seorang Mpu haru memperhatikan sedikitnya 4 syarat untuk bisa dikatakan bahwa dia membuat dan menghasilkan keris, apa saja itu?

1. Keris harus terdiri dari dua bagian utama, yakni bagian bilah keris (termasuk pesi) dan bagian ganja. Bagian bilah dan pesi melambangkan ujud lingga, sedangkan bagian ganja melambangkan ujud yoni. Dalam falsafah Jawa, yang bisa dikatakan sama dengan falsafah Hindu, persatuan antara lingga dan yoni merupakan perlambang akan harapan atas kesuburan, keabadian (kelestarian), dan kekuatan, tapi juga ada keris dengan gonjo iras.
2. Bilah keris harus selalu membuat sudut tertentu terhadap ganja, bukan tegak lurus. Kedudukan bilah keris yang miring atau condong, ini adalah perlambang dari sifat orang Jawa, dan juga suku bangsa Indonesia lainnya, bahwa seseorang apa pun pangkat dan kedudukannya, senantiasa menunduk dan hormat bukan saja pada Sang Pencipta, juga pada sesamanya. Ilmu padi, kata pepatah, makin berilmu seseorang, makin menunduklah orang tersebut.

3. Ukuran panjang bilah keris yang lazim adalah antara 33 - 38 cm (kecuali yg dikatakan “corok” Beberapa keris luar Jawa bisa mencapai 58 cm, bahkan keris buatan Filipina panjangnya ada yang mencapai 64 cm. yang terpendek adalah keris Buda dan keris buatan Nyi mbok Sombro, Tetapi keris yang dibuat orang amat kecil dan pendek, misalnya hanya 12 cm, atau bahkan ada yang lebih kecil dari ukuran fullpen, tidak dapat digolongkan sebagai keris, melainkan semacam jimat berbentuk keris-kerisan.

4. Keris yang baik harus dibuat dan ditempa dari tiga macam logam, minimal dua, yakni besi, baja dan bahan pamor. Dengan demikian, keris yang dibuat dari kuningan, seng, dan bahan logam lainnya, tidak dapat digolongkan sebagai keris. Begitu juga "keris" yang dibuat bukan dengan cara ditempa, melainkan dicor, atau yang dibuat dari guntingan drum bekas aspal tergolong bukan keris, melainkan hanya keris-kerisan juga Meskipun masih ada beberapa kriteria lain untuk bisa mengatakan sebuah benda adalah keris,ya ketentuan di atas itulah yang terpenting.

Ada banyak keunikan tentang keris ini, apa saja itu?

Keris dibuat seorang mpu. Keris bermutu tinggi dibuat memakan waktu kurang lebih 45 hari dan terbagi dalam beberapa tahap. Pertama, masuh, menempa bahan keris terus menerus sampai kadar karbonnya berkurang. Kedua, saton,menambahkan 300 gram pamor dengan cara menempanya tumpang tindih berkali-kali. Kemudian dibentuk menjadi tiga bagian utama, yakni bagian badan bilah keris (wilahan), bagian pangkal keris (ganja atau aring), dan bagian keris yang masuk ke hulu pegangannya (pesi/paksi/punting).
Agar tampilan keris perfect, maka dilakukan proses penyepuhan. Caranya, panaskan keris hingga suhu 500 derajat Celcius, lalu didinginkan secara mendadak ke dalam air yang telah diberi larutan warangan. Warangan adalah senyawa yang mengandung arsen, sehingga proses ini akan menghasilkan perpaduan warna menakjubkan. Bagian besi keris berwarna kehitaman dan pamornya tetap putih seputih perak.
Menurut pustaka kuno, untuk menghasilkan sebilah keris istimewa dan ampuh memakan waktu sekitar dua tahun. Hal ini berkaitan dengan pemilihan hari baik, kelengkapan sesaji, kekuatan ritual. Si mpu hanya bekerja pada hari-hari yangdianggap baik menurut primbon. Keris biasanya berbentuk lurus (dapur leres) dan berkelok (dapurluk). Yang paling pendek memiliki tiga luk dan terpanjang 29 luk.
Selain sebagai senjata andalan (piandel), keris juga kerap menjadi wakil (sesulih) pribadi pemiliknya. Di beberapa daerah di Pulau Jawa, pada suatu pernikahan jika mempelai putra berhalangan hadir, ia boleh mendelegasikan dirinya dengan sebilah keris miliknya. Dus, mempelai wanita duduk bersanding mesra di pelaminan dengan keris milik suaminya. Tidak hanya itu, seorang utusan raja dianggap sah ketika menghadapi raja lainnya, apabila membawa salah satu keris pusaka milik rajanya.

Jadi banyak sekali nilai sejarah pada keris tersebut, dan masa saat ini keris tidak digunakan seperti jaman dahulu yang mayoritas oleh kerajaan majapahit yang mengunakanya untuk berperang dan menujukan wibawa seseorang, tapi sekarang keris hanyalah digunakan untuk aksesoris semata dan barang koleksi bagi para pejabat kaya di negeri Indonesia ini, tapi ada juga yang masih percaya bahwa keris memiliki nilai magis atau bisa disebut memiliki penunggu sendiri yang sering digunakan oknum-oknum dukun-dukun ataupun paranormal, tidak hanya disitu saja keris sekarang kadang di gunakan sebagai cinderamata bagi delegasi bangsa luar yang datang ke Indonesia.

Saat ini keris sangatlah terawat dan masih sangat di jaga kelestarianya, walaupun pada beberapa tahun lalu sempat menjadi polemic antar Negara asean keris milik siapa ?, maka UNESCO menetapkan bahwa keris menjadi warisan budaya, walaupun belum di ketahui pasti keris asal mulanya dari mana, tapi banyak peneliti mengatakan kerajaan majapahit lah yang pertama membuatnya yang notabenya berasal dari daerah Indonesia dan tersebar ke Malaysia, Filipina, kamboa dan Negara-negara asean lainya, ada juga di india dan china. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar