1. Apa sebenarnya
kepakaran dari seorang sarjana teknik industri?
Jawab:
Teknik industri merupakan pencabangan keilmuan teknik yang
berasal dari Amerika Utara. Itulah sebabnya di negara-negara eropa atau
persemakmuran (commonwealth) anda tidak akan menemukan teknik industri, tetapi
lebih spesifik lagi menjadi teknik manufaktur (manufacturing engineering) atau
teknik manajemen (engineering management). Secara historis, teknik industri
merupakan pencabangan dari keilmuan teknik mesin yang pada awalnya berfokus
kepada bagaimana mengelola tidak hanya mesin-mesin manufaktur tetapi secara
lebih makro: sebuah sistem manufaktur sebagai sebuah sistem terintegrasi.
Mengingat pada saat itu memang dibutuhkan seorang ahli yang tidak hanya
mengerti konsep dasar permesinan tetapi juga sanggup mengelola aliran produsi,
penjadwalan, biaya dan lain sebagainya yang dibutuhkan untuk mengelola sebuah
sistem manufaktur.
Teknik industri berfokus kepada perancangan, peningkatan dan
instalasi dari sistem terintegrasi yang terdiri atas manusia, material,
peralatan dan energi
Merancang menunjukkan kemampuan untuk secara kreatif
mengkombinasikan pengetahuan yang telah dimiliki kedalam sebuah rancangan
sistem. Sistem yang paling klasik yang dirancang adalah sebuah sistem produksi
manufaktur, baik hanya sebuah 1 line produksi atau lengkap 1 buah pabrik.
Tetapi pada kenyataannya, sistem disini dapat berupa pula sebuah sistem solusi
integratif (integrated solution systems), yaitu rancangan solusi yang “khas
TI”: rancangan yang multi-perspective, multi-disiplin, multi-approach dan
multi-dimensi. Solusi yang multi inilah yang menjadi kekuatan TI. Disinilah
letak kemampuan integratif, yang membuat banyak lulusan teknik industri bekerja
pada bidang konsultasi.
Meningkatkan dapat diterjemahkan sebagai manajemen. Pakar
manajemen mengatakan bahwa ada beda antara administrasi dan manajemen.
Administrasi berorientasi untuk mengerjakan hal yang sama terus menerus secara
tepat aturan, sedangkan manajemen bermakna ada peningkatan yang harus
dilakukan. Berdasarkan definisi ini tentunya manajemen menunjukkan kemampuan
untuk melakukan pemecahan masalah, karena inti dari peningkatan adalah
kemampuan memecahkan masalah. Ini mencakup kepekaan mengidentifikasikan
masalah, kemampuan analisa dengan berbasis data menggunakan ilmu statistik,
berfikir sistem dan lain sebagainya yang berguna dalam memecahkan masalah.
Menginstalasi menunjukkan kemampuan untuk melakukan
pendefinisian langkah-langkah yang dibutuhkan untuk melakukan instalasi
terhadap rancangan sistem. Menginstalasi membutuhkan ilmu manajemen proyek,
walaupun manajemen proyek untuk teknik industri tentu berbeda dengan teknik
sipil. Menginstalasi memaksa seorang teknik industri untuk berfikir jauh
kedepan dalam merancang dan meningkatkan sistem. Dalam 7 kebiasaan manusia efektif,
konsep ini dikenal sebagai mulailah dari hasil akhir yang diinginkan (Begin
With the End in Mind). Penterjemahan konsep ini contohnya adalah design for
maintenance, design for manufacture, design for six sigma dsb. yaitu sebuah
konsep perancangan yang sudah memasukkan unsur kemudahan pemeliharaan,
pembuatannya bahkan pengontrolan kualitasnya sehingga produk dapat lebih cepat
diterima oleh pasar dalam kualitas optimal.
Teknik industri membutuhkan pengetahuan dan keahlian dalam
bidang matematika, fisika dan ilmu-imu sosial serta prinsip dan metodologi
teknik/rekayasa ..
Bagian ini menunjukkan kebutuhan keilmuan dasar untuk
mendukung peran seorang teknik industri dan penegasan bahwa teknik industri
walaupun erat dengan ilmu sosial masih merupakak bidang teknik. Itulah sebabnya
dalam kurikulum teknik industri tahun pertama sarat dengan kuliah-kuliah dasar
keteknikan seperti kalkulus, aljabar linear, fisika, kimia dan sebagainya,
walaupun muatannya tentunya disesuaikan dengan kebutuhan dari teknik industri.
Prinsip dan metodologi teknik/rekayasa adalah penekanan pada
aspek desain, prototyping dan membangun sistem (develop=engineer) yang
merupakan ciri khas bidang ilmu teknik. Jika ahli teknik lain membangun sistem
nyata (tangible) seperti jembatan, bangunan, mesin dsb, maka ahli teknik
industri memiliki tugas yang lebih berat, yaitu membangun yang nyata (pabrik
atau proses produksi) tetapi pada saat yang sama membangun yang tidak nyata
(intangible) seperti sistem penilaian kinerja, sistem pengembangan SDMnya,
perhitungan activity based costingnya, jadwal pemeliharaanya, dsb. Jadi
kerjaannya malah lebih berat.
Teknik industri menspesifikasikan, memprediksi dan
mengevaluasi hasil yang diperoleh dari sebuah sistem terintegrasi.
Ada 3 permasalahan dalam kinerja, yaitu bagaimana
menspesifikasikan kinerja, memprediksi kinerja yang telah dispesifikasikan dan
bagaimana mengevaluasinya.
Menspesifikasikan: Kinerja harus dispesifikasikan di awal
sebuah perancangan atau peningkatan sistem, karena setiap pihak bisa jadi memiliki
perbedaan persepsi terhadap arti kinerja. Seorang ahli keuangan mengatakan
kinerja baik dari sebuah sistem adalah penghematan biaya, seorang marketing
mengatakan kinerja baik berarti memenuhi kebutuhan pelanggan, seorang manajer
produksi mengatakan kinerja baik adalah kesesuaian dengan standard produk.
Semua kinerja ini tidak ada yang salah, tetapi semua kinerja ini bisa saling
bertentangan dan berakibat sistem tidak akan kemana-mana, sehingga perlu
diselaraskan.
Menspesifikasikan, juga berarti seorang teknik industri
harus menentukan indikator, cara mendapatkan indikator, merancang cara mencari
data, menentukan alat yang digunakan untuk mengukurnya, frekuensi pengukuran
dsb.
Memprediksi: setelah dispesifikasikan, tentunya ketika
merancang atau meningkatkan sistem kita sudah bisa mendapatkan semacam gambaran
bagaimana sistem tadi berfungsi nantinya dan bagaimana kinerjanya. Artinya,
kinerjalah yang menjadi patokan anda dalam memperbaiki dan merancang sistemnya,
bukan berdasarkan feeling atau malah tidak memiliki dasar sama sekali (hanya
karena pengin aja)
Mengevaluasi: tentunya setelah sistem diperbaiki atau
dirancang dan diinstalasi, maka kita perlu melakukan evaluasi secara riil
terhadap kinerja yang telah dirancang pada saat awal. Jika kinerja telah
dispesifikasikan dengan baik pada saat awal, maka pada langkah ini dijalankan
pengevaluasian kinerja. Tentunya hasil dari evaluasi akan menjadi umpan balik
dalam perbaikan berikutnya.
2. Tuliskan karakter-karakter tidak ber-ETIKA menurut kalian
dalam kehidupan sehari-hari ( 3 beri contoh dan analisa)?
Jawaban :
• Selalu
menanggapi sesuatu dengan emosional contoh, karakter ini dianggap tidak
beretika karena segala sesuatu hal yang dibicarakan tidak dapat diselesaikan
atau diterima dengan kepala dingin.
• Suka
mengambil barang orang lain (pencuri) contoh, orang yang selalu mencari – cari
kesempatan disaat orang lain lengah untuk mengambil barang yg bukan miliknya
merupakan salah satu karakter orang yg tidak beretika.
• Berbicara
kasar di depan umum contoh, orang yang suka berbicara kasar di depan umum
terhadap orang yang bersangkutan dianggap tidak beretika karena selain tidak
menghargai orang yg bersangkutan tersebut, juga tidak mempedulikan kondisi
lingkungan sekitar yang terdapat orang lain.
• Bersikap
egois dalam kelompok kerja contoh, dalam suatu kelompok kerja dibutuhkan kerja
sama dan kekompakkan satu sama lain tetapi jika ada satu orang saja yg tidak
mau mengerjakan tugas dalam kelompok tersebut dengan alasan tidak jelas maka
orang tersebut dapat dianggap tidak beretika karena tidak ingin dibebani tugas
apapun.
• Berjalan
di depan orang tua tanpa permisi contoh, kebiasaan seperti ini sering kali
terjadi tanpa disadari. Apabila ada orang atau kerumunan orang, hendaknya kita
tidak berjalan di depan mereka. Apabila di belakang mereka ada jalan atau
lorong yang bisa kita lewati, hendaknya kita lewat belakang mereka. Tetapi
apabila tidak ada jalan atau lorong, maka kita lewat depan mereka dengan
permisi.
3. Tuliskan aktivitas tidak ber-ETIKA professional dalam
bekerja (beri 3 contoh dan analisa)?
Jawaban :
• Tidak
bertanggung jawab dalam menjalankan tugas, seorang pekerja dalam melaksanakan
tanggungjawabnya sebagai profesional harus senantiasa menggunakan pertimbangan
moral dan profesional dalam semua kegiatan yang dilakukannya. jika tidak, maka
dianggap tidak memiliki etika professional.
• Tidak
menjaga rahasia perusahaan, seorang pekerja hendaknya menjaga semua rahasia
data-data yang dimiliki oleh perusahaan tempat mereka bekerja.
• Terlambat
masuk kerja, sebagai pekerja hendaknya mematuhi peraturan yang ada. Tindakan
terlambat masuk kerja tidak mencerminkan keprofesionalan seorang pekerja.
• Tidak
mengikuti peraturan yang berlaku dalam tempat bekerja suatu perusahaan atau
tempat seseorang bekerja memiliki peraturan-peraturan yang diwajibkan oleh
perusahaan tsb. apabila seorang pekerja tidak dapat mengikuti peraturan
perusahaan tsb, maka dianggap tidak memiliki etika professional.
• Berbicara
tidak sopan, sering kali pekerja berbicara tidak sopan di lingkungan kerjanya.
Hal ini merupakan tindakan yang tidak profesional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar