Chrome Pointer

Blog Posts

Selasa, 06 Desember 2016

Usaha Jas Perumahan Oleh Hj. HARFANA ALWI

Hj. HARFANA ALWI
          Hj. Harfana Alwi atau akrab dipanggil dengan Anha ini merupakan seorang pengusaha sukses asal Kota Bone Sulawesi Selatan dengan Nama Perusahaannya yaitu PT Harfana Halim Indah. Anha ini, lahir di Watampone Kabupaten Bone pada Tanggal 26 September 1990, merupakan anak pertama dari 3 (tiga) bersaudara. Ia termasuk seorang anak yang lahir dari keluarga yang berada, ia memiliki banyak skali skill (kemampuan) dalam berbagai bidang, khususnya dalam bidang kewirausahaan. Sekarang ini, Anha sedang menempuh pendidikannya di Jurusan Kedokteran Umum Universitas Hasanuddin, dibalik kesibukannya tersebut, Ia juga merupakan Pimpinan Utama (Direktur) dari Perusahannya tersebut.
 Perusahaan PT Harfana Halim Indah yang dikelola oleh Harfana ini asal mulanya, ditangani oleh Ayahnya (H.Muhammad Alwi), ia hanya melanjutkan perjuangan dan cita-cita Ayahnya.
Usaha ini mempunyai sejarah sebagai Berikut:
Hasil gambar untuk pt harfana halim indah
Usaha ini sebelumnya dibangun oleh Ayah dari Sdri. HJ.Harfana Alwi yaitu H.Muhammad. Alwi yang sebelumnya berprofesi sebagai tukang gigi. Ia memulai usahanya dengan mengumpulkan modal sedikit demi sedikit ke dalam tabungannya yaitu BRI hingga mencukupi untuk meraih impiannya tersebut. Modal tersebut dikumpulkannya dari usahanya sebagai tukang gigi, dan modal tambahan yang diberikan dari kakek Sdrii HJ.Harfana Alwi yang bekerja sebagai petani. Usaha ini pada awalnya berkembang dengan sangat lambat disebabkan oleh factor modal, namun dengan adanya peminjaman kredit pada Bank, maka usaha ini terus mengalami perkembangan. 
Setelah HJ.Harfana Alwi  berusia 17 tahun, ayahnya mewariskan atau memindahtangankan seluruhnya usaha ini kepadanya. Sehingga ia merasa pada usia tersebut sebagai usia yang menuntunnya untuk menjadi seorang wirausaha dari usaha yang dicetuskan oleh Ayahnya. Selama berada di tangan HJ.Harfana Alwi, usaha ini terus menerus mengalami perkembangan pesat, ia melakukan sedikit perubahan-perubahan pada organisasi usaha ini, dimana perubahan ini memberikan manfaat yang sangat besar bagi calon pembelinya.          Yang menjadi trik utama dalam usaha Real Estate ini adalah, mencari lokasi atau sasaran pembangunan yang kurang persaingan dalam lokasi tersebut. Seperti di daerah perkotaan yang padat penduduk, namun kurang persaingan pada lokasi tersebut. Dalam usaha ini, dilakukan di daerah Bone, Bombana, dan Palopo. Maka dari hal tersebut, sehingga lahirlah suatu perusahaan yang besar, yang dikelolah oleh tangan-tangan yang terampil pada bidangnya masing-masing.

Berikut ini adalah sekilas tentang Perusahaan PT Harfana Halim Indah:
Jenis Usaha
               : Real Estate “Pengadaan Jual Beli Rumah dalam lingkungan suatu Perumahan”
Tanggal Berd
iri          : Tahun 1985
Tempat Berdiri          : Watampone, Kabupaten Bone Sulawesi Selatan
Modal awal: Rp. 500.000,-
Sumber Modal
          :Tabungan Sendiri (dari Usaha-usaha sebelumnya seperti Usaha Sebagai Tukang Gigi dan tambahan dari orang Tua)
Omset: Rp. 2.000.000.000,-/Bulan
Lokasi Usaha
:
Tersebar di berbagai Provinsi di Pulau Sulawesi seperti Sulawesi Selatan pada umumnya, Sulawei tenggara, dan Sulawesi Tengara.
Pusat/Kantor Lokasi Usaha:
1.
         Jalan Sambaloge Baru Watampone, Kabupaten Bone.
2.
         Jalan Poros Palopo-Belopa, Kabupaten Palopo.
3.
         Bombana, Sulawesi Tenggara
Nama-nama Perumahan:
1.
         BTN Harfana halim Indah Permai
2.
         BTN Harfana halim Indah Lestari
3.
         BTN Alam Indah Permai
4.
         BTN Permata Biru Indah Permai
5.
         BTN Bone Biru Indah Permai
6.
         Perumnas Tibojong Indah Permai
7.         Taman Anggrek Indah Permai
8.
         Bombana Indah Permai
9
.         BTN Bombana Harfana Indah Permai
10.
       Palopo Harfana Indah Permai\

Sumber Ref : http://safira82.blogspot.co.id/2013/06/10-profil-tokoh-pengusaha-sukses.html

Senin, 14 November 2016

Analisis SWOT Tokoh Sukses Kewirausahaan


A. Profil Susi Pudjiastuti
Susi PudjiastutiPerempuan kelahiran 1965 yang sekarang menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan RI di bawah Presiden Jokowi ini adalah seorang pengusaha yang terkenal tegas. Ia merintis bisnisnya di bidang perikanan dan kemudian maskapai penerbangan dari nol. Setelah memilih untuk berhenti sekolah sebelum lulus SMA, ia memulai usahanya sebagai pedagang pakaian dan bed cover. Setelah melihat potensi wilayah tempat tinggalnya, Pangandaran, sebagai penghasil ikan, Susi lantas memanfaatkannya sebagai peluang bisnis dan beralih ke usaha perikanan. Dengan modal hanya Rp750 ribu hasil dari menjual perhiasannya, ia mulai membeli ikan dari tempat pelelangan dan memasarkannya ke sejumlah restoran. Setelah sempat tersendat, bisnis Susi akhirnya berhasil menguasai bursa pelelangan ikan di Pangandaran dan bahkan kemudian merambah ke ekspor ikan dan lobster.
Bisnis maskapai penerbangannya juga berawal dari bisnis perikanan tersebut. Untuk mengatasi masalah pengiriman ikan yang lambat apabila lewat darat atau laut, Susi membeli sebuah pesawat dari pinjaman bank untuk pengangkutan produk lautnya, yang kemudian berkembang menjadi armada maskapai penerbangan Susi Air yang melayani rute pedalaman dan carter.
B. Analisis SWOT Susi Pudjiastuti
1. Strengths
Merupakan kondisi kekuatan yang terdapat dalam seseoramg,organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada. Kekuatan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam  tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.
a. Memiliki keberanian yang kuat dalam mengambil keputusan
b. Memiliki kemampuan penguasaan pasar tertentu
c. Memiliki kemampuan memimpin kelompok
d. Menguasai ilmu kelautan
e. Berani melawan pelanggar
f. Mau berubah

2. Weakness
Merupakan kondisi kelemahan yang terdapat dalam seseorang,organisasi, proyek atau konsep bisnis yang ada.Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam  tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.
a. Komunikasi yang keras cenderung kasar
b. Merokok

3. Opportunities
Merupakan kondisi peluang berkembang di masa datang yang terjadi. Kondisi yang terjadi merupakan peluang dari luar organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. misalnya kompetitor, kebijakan pemerintah, kondisi lingkungan sekitar.
a. Kesempatan menjadi mentri kelautan Republik Indonesia
b. Menjadi Pengusaha Ikan
c. Pengajar dalam ilmu perikanan dan bisnis
d. Menjadi salah satu tokok terbaik di Indonesia kontes keberanian dan Jujur

4. Threats
Merupakan kondisi yang mengancam dari luar. Ancaman ini dapat mengganggu organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri.
a. Jebakan dari pembisnis-pembisnis lain
b. para koruptor yang tidak senang dengan keadaan tokoh ini
b. tim yang tidak mampu mengimbangi kinerja Susi Pudjiastuti

Referensi:
https://www.cermati.com/artikel/8-kisah-inspiratif-pengusaha-sukses-indonesia
http://gudangtugasicha.blogspot.co.id/2015/01/analisis-swot-terhadap-kepribadian-diri.html

Senin, 04 April 2016

Sistem Pengelolaan Lingkungan

Berdasarkan pengalaman dan evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan selama ini, dipandang perlu untuk menyusun suatu sistem pengelolaan lingkungan yang memberikan sarana lebih terstruktur dalam mencapai target pengelolaan lingkungan.
Sistem Pengelolaan Lingkungan dapat diartikan sebagai integrasi dari struktur organisasi, wewenang dan tanggung jawab, mekanisme dan prosedur/proses, praktek operasional, dan sumberdaya untuk implementasi pengelolaan lingkungan.
Pengelolaan lingkungan meliputi segenap aspek fungsional pengelolaan untuk mengembangkan, mencapai, dan menjaga kebijakan dan tujuan organisasi dalam isu-isu lingkungan hidup.
Sistem Pengelolaan Lingkungan memberikan mekanisme untuk mencapai dan menunjukkan kinerja lingkungan yang baik, melalui upaya pengendalian dampak lingkungan dari kegiatan, produk dan jasa.
Agar dapat diimplementasikan secara efektif, Sistem Pengelolaan Lingkungan harus mencakup beberapa elemen utama sebagai berikut:
1. Kebijakan lingkungan: pernyataan tentang maksud kegiatan pengelolaan lingkungan dan prinsip-prinsip yang digunakan untuk mencapainya.
2. Perencanaan; mencakup identifikasi aspek lingkungan dan persyaratan peraturan lingkungan hidup yang bersesuaian, penentuan tujuan pencapaian dan program pengelolaan.
3. lmplementasi; mencakup struktur organisasi, wewenang dan tanggung jawab, pelatihan, komunikasi, dokumentasi, pengendalian dan tanggap darurat.
4. Pemeriksaan reguler dan tindakan perbaikan: mencakup pemantauan, pengukuran, dan audit.
5. Kajian pengelolaan; kajian tentang kesesuaian dan efektifitas sistem untuk mencapai tujuan dan perubahan yang terjadi di luar organisasi.

Setiap organisasi, tanpa batasan bidang kegiatan, jenis kegiatan, skala kegiatan dan status organisasi, dapat mengimplementasikan Sistem Pengelolaan Lingkungan tersebut untuk mencapai kinerja lingkungan yang lebih baik secara sistematis. lmplementasi sistem tersebut bersifat sukarela dan berperan sebagai alat pengelolaan untuk memanajemen organisasi masing-masing.

1. AMDAL dalam Pengelolaan Lingkungan


Setiap kegiatan pembangunan secara potensial mempunyai dampak terhadap lingkungan. Dampak-dampak ini harus dipelajari untuk merencanakan upaya mitigasinya. Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 (PP 51/1993) tentang Analisis Mengenal Dampak Lingkungan (AMDAL) menyatakan bahwa studi tersebut harus merupakan bagian dari studi kelayakan dan menghasilkan dokumen-dokumen sebagai berikut:
1. Kerangka Acuan (KA) ANDAL, yang memuat lingkup studi ANDAL yang dihasilkan dari proses pelingkupan.
2. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), yang merupakan inti studi AMDAL. ANDAL memuat pembahasan yang rinci dan mendalam tentang studi terhadap dampak penting kegiatan yang diusulkan.
3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), yang memuat usaha-usaha yang harus dilakukan untuk mitigasi setiap dampak lingkungan dari kegiatan yang diusulkan.
4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), yang memuat rencana pemantauan dampak lingkungan yang akan timbul.

RKL dan RPL merupakan persyaratan mandatory menurut PP 51/1993, sebagai bagian kelengkapan dokumen AMDAL bagi kegiatan wajib AMDAL. Untuk kegiatan yang tidak wajib AMDAL, penanggulangan dampak lingkungan yang timbul memerlukan:
1. Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL)
2. Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL)
3. Pertanggung-jawaban pelaksanaan audit, antara auditor dan manajemen organisasi.
4. Komunikasi temuan-temuan audit.
5. Kompetensi audit.
6. Bagaimana audit akan dilaksanakan.

Sebagai dasar pelaksanaan Audit Lingkungan di Indonesia, telah dikeluarkan Kepmen LH No. 42/MENLH/11/1994 tentang Prinsip-Prinsip dan Pedoman Umum Audit Lingkungan. Dalam Lampiran Kepmen LH No. 41/94 tersebut didefinisikan bahwa:

"Audit lingkungan adalah suatu alat pengelolaan yang meliputi evaluasi secara sistematik terdokumentasi, periodik dan obyektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi, sistem pengelolaan dan pemantauan dengan tujuan memfasilitasi kontrol pengelolaan terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian kelayakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan".

"Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat pengelolaan yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggungjawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan, melainkan suatu usaha proaktif yang diIaksanakan secara sadar untuk mengidentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-­upaya pencegahannya".

Peraturan tersebut menggaris-bawahi pentingnya implementasi suatu sistem pengelolaan lingkungan untuk meningkatkan kinerja lingkungan. Hal ini selaras dengan substansi dari ISO seri 14000.


2. Produksi Bersih dalam Pengelolaan Lingkungan


Berdasarkan pengalaman pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan selama ini, dapat dikaji beberapa pokok penting sebagai berikut:
1. Produksi limbah terus meningkat.
2. Karakteristik limbah semakin kompleks sehingga limbah semakin sulit diolah.
3. Biaya pengolahan dan pembuangan limbah semakin mahal.
  1. Mengolah limbah ternyata lebih mahal daripada mencegah terbentuknya limbah.
5. Pengolahan limbah hanya memindahkan limbah dari satu media ke media lainnya.
6. Pencemaran lingkungan terus berlanjut.
7. Peraturan yang ada masih terfokus pada pengolahan dan pembuangan limbah dan belum mencakup usaha-usaha pencegahannya.
8. Adanya dampak globalisasi terhadap daya saing produk di pasar lnternasional.

Berdasarkan hal~hal tersebut di atas, maka pengendalian dampak lingkungan harus berpola proaktif dengan urutan prioritas:
1. Prinsip pencegahan pencemaran (pollution prevention)
2. Pengendalian pencemaran (pollution control),
3. Remediasi (remediation).

Upaya pencegahan pencemaran secara sistematik dapat dilaksanakan melalui pelaksanaan program Produksi Bersih (Cleaner Production). lstilah Cleaner Productionmulai diperkenalkan oleh UNEP pada bulan Mei 1989 dan diajukan secara resmi pada bulan September 1990 pada "Seminar on the Promotion of Cleaner Production" di Cantebury, lnggris.
UNEP mendefinisikan Produksi Bersih sebagai:

"Pelaksanaan yang terus menerus untuk mengurangi sumber pencemaran secara terpadu guna mencegah pencemaran udara, air dan tanah pada proses industri dan produknya, serta meminimalkan risiko bagi populasi manusia dan lingkungan”.

Untuk “proses”, produksi bersih mencakup upaya penghematan bahan baku dan energi, tidak menggunakan bahan baku B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), mengurangi jumlah toksik semua limbah dan emisi yang dikeluarkan sebelum produk meninggalkan proses.
Untuk “produk”, produksi bersih memfokuskan pada upaya pengurangan dampak yang timbul di keseluruhan daur hidup produk, mulai dari ekstraksi bahan baku sampai pembuangan akhir setelah produk tidak dapat digunakan lagi.
Strategi produksi bersih mencakup upaya pencegahan pencemaran melalui pilihan jenis proses yang akrab lingkungan, minimisasi limbah, analisis daur hidup, dan teknologi bersih.
Keuntungan yang didapat melalui penerapan produksi bersih adalah:
1. Sebagai pedoman bagi perbaikan produk dan proses.
2. Penghematan bahan baku dan energi yang sekaligus pengurangan ongkos produksi per satuan produk.
3. Peningkatan daya saing mefalui penggunaan teknologi baru dan/atau perbaikan teknologi.
4. Pengurangan kebutuhan bagi penaatan baku mutu dan peraturan yang lebih banyak.
5. Perbaikan citra perusahaan di mata masyarakat.
6. Pengurangan biaya secara nyata sebagai alternatif solusi pengolahan “ujung pipa” yang mahal.


Sumber : http://studyandlearningnow.blogspot.co.id/2013/06/sistem-pengelolaan-lingkungan.html

Selasa, 09 Februari 2016

Ringkasan Jurnal Manufaktur

Selama lebih dari dua puluh tahun, peran industri manufaktur dalam perekonomian

Indonesia telah meningkat secara substansial, dari 19% terhadap PDB tahun 1990 menjadi

26% tahun 2009 (Grafik II.1). Walaupun selama tahun 1990-2008, sektor industri juga sempat

mengalami penurunan pertumbuhan akibat adanya krisis. Di sisi lain, peningkatan lapangan

kerja industri manufaktur hanya naik dari 10 % menjadi 12 %.

Dinamika sektor industri secara umum bergerak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Ketika krisis Asia melanda Indonesia tahun 1997/1998, PDB tahun 1998 tumbuh negatif sebesar

13.3 % yang juga diikuti oleh penurunan pertumbuhan sektor manufaktur sebesar 15.4 %

(Grafik II.2). Penurunan yang tajam pada output manufaktur tahun 1998 ini juga diikuti oleh

penurunan tajam lapangan kerja di sektor manufaktur yaitu sebesar 9%.

% PDB

%

25

20

15

10

5

0

-5

-10

-15

-20

25

1994 1997 2000 2003 2006 2009

Manufaktur PDB

93 94 95 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 06 07 08 09 -

Manufacturing Industries (%) Agriculture (%)

Mining and Quarrying (%) Financial, Ownership and Business (%)

Grafik II.1: Kontribusi Sektor Utama

terhadap Perekonomian

Grafik II.2: Pertumbuhan PDB dan

Sektor Manufaktur Tahun 1994-2009

Kontribusi sektor manufaktur yang besar terhadap perekonomian menyebabkan siklus

perekonomian tidak terlepas dari dinamika sektor manufaktur. Siklus boom dan bust dalam

ekonomi sering dikaitkan dengan jumlah perusahaan yang masuk dan keluar dari suatu industri.

Selain terhadap perekonomian, dinamika perusahaan juga mempengaruhi penurunan output

dan kesempatan kerja sektor manufaktur.

Jumlah perusahaan yang masuk dan keluar juga menjadi berpengaruh bagi fluktuasi

makroekonomi karena beberapa alasan. Pertama, dinamika tersebut mungkin disebabkan

struktur perekonomian sedang menghadapi guncangan atau perubahan kebijakan. Kedua,

jumlah perusahaan yang masuk dan keluar berguna untuk melihat bagaimana implikasi

guncangan positif (boom) atau negative (bust). Beberapa penelitian memberikan bukti empiris

Dinamika Industri Manufaktur dan Respon Terhadap Siklus Bisnis 137

pengaruh siklus bisnis terhadap dinamika industri manufaktur. McQueen dan Thorley (1993)

menyatakan kapasitas produksi industri manufaktur di AS akan menurun dan melambat selama

masa resesi.

Sebagian besar penelitian menganalisis hubungan antara karakteristik perusahaan

manufaktur dengan siklus ekonomi yang berfokus pada negara-negara maju2

penelitian yang melakukan analisis untuk menunjukkan pola sektor manufaktur dalam beberapa

siklus bisnis, khususnya di negara-negara berkembang. Secara eksplisit, penelitian ini bertujuan

untuk (i) mengetahui pengaruh perbedaan siklus boom/bust terhadap tingkat keluar/masuk

perusahaaan, (ii) mengetahui karakteristik perusahaan yang keluar masuk industri pada periode

boom/bust, dan (iii) mengukur pengaruh perubahan karakteristik perusahaan terhadap peluang

perusahaan keluar masuk industri pada periode boom/bust.

Penelitian ini ditulis dalam beberapa bagian. Bagian II menjelaskan latar belakang teoritis

dan kajian literatur. Bagian III membahas tentang metodologi dan data yang digunakan. Bagian

IV menyajikan analisis deskriptif perusahaan yang masuk dan keluar. Bagian V menjelaskan

hasil pengolahan data dan Bagian VI menyajikan beberapa kesimpulan.

. Belum ada

Sejarah MK Metodologi Penilitian


SUMBER SEJARAH DAN METODE PENELITIAN SEJARAH
METODE PENELITIAN SEJARAH
BERTUJUAN UNTUK MEREKONSTRUKSI MASA LALU SECARA SISTEMATIS DAN OBJEKTIF DENGAN MENGUMPULKAN, MENILAI, MEMVERIFIKASI DAN MENSINTESISKAN BUKTI (DATA) UNTUK MENETAPKAN FAKTA DAN MENCAPAI KONGKLUSI YANG DAPAT DIPERTAHANKAN
  • Sumber sejarah dalam konteks pembelajaran merupakan sumber informasi yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh siswa ketika dia akan melakukan penelitian sejarah
  • Menurut Bahannya, sumber sejarah terdiri dari: sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber benda
    • Surat, buku harian, koran, film, novel, artifak seperti pakaian, bangunan, foto, dan sejenisnya yang berasal dari masa lampau dan masih ada hingga sekarang.
    • Bahan-bahan tersebut biasanya tersimpan di arsip, di museum dan koleksi pribadi.
    • Dokumen-dokumen, baik dipublikasi maupun tidak adalah bahan yang paling utama dalam penulisan sejarah.
    • Kalau suatu dokumen berasal dari zaman tua, kadang-kadang, hanya ada beberapa kata dari dokumen itu yang masih dipakai pada zaman sekarang. Kesulitan kita memahami masyarakat masa lalu secara seutuhnya, adalah karena kebanyakan dokumen tua itu merupakan tulisan orang-orang elite dan versi resmi belaka, sehingga pemahaman kita dari sumber seperti itu hanya dari satu sisi elite belaka. Orang-orang miskin, budak, orang desa tidak mempunyai peninggalan tertulis, karena mereka pada masa lalu adalah buta huruf.

Saya suka dengan mata kuliah ini, karena mengajarkan bagaimana kita menganalisis suatu tulisan, karya peneliotian dan juga banyak hal yang berkaitan dengang penulisan, sehingga kita dapat mengembangkan fikiran dan daya analisis kita.