10 TEKNIK ANALISIS DATA
Tindak lanjut kegiatan peneliti sesudah pengumpulan data sangat
bervariasi bentuknya tergantung dari bagaimana data yang terkumpul akan
diorganisasikan. Agar peneliti tidak terhenti langkahnya dengan kebingungan
tidak tahu apa yang akan dilakukan selanjutnya, sebaiknya pada waktu menyusun
proposal penelitian langkah-langkah tersebut sudah tercermin di dalamnya.
Di sisi lain, perolehan data dalam kancah penelitian
sering dibicarakan kadar kevaliditasan dan kereabilitasannya. Pembicaraan
masalah ini termasuk hal hal urgen dalam dunia penelitian, mengingat kualitas
data yang bersumber dari hasil pengukuran akan ikut menentukan terhadap
bagaimana kualitas kegiatan dan hasil suatu penelitian. Pada sisi lain pada
persoalan tersebut juga terkait dengan masalah generalisasi, sehingga kualitas
hasil data sangat bergantung pada kualitas alat ukurnya. Oleh karena kesahihan
dan keterandalam alat ukut merupakan standar mutlak yang tak dapat ditawar lagi
oleh seorang peneliti, jika ia menginginkan hasil penelitiannya memiliki kadar
kualitas yang memadai. Alasan cukup sederhana, alat ukur yang baik (valid dan
reliabel) akan mampu merekam data secara baik; sehingga data yang diperoleh
akan memiliki kualitas yang baik pula. Data ini apabila ditindak lanjuti dengan
suatu analisis, maka akan dihasilkan suatu kesimpulan (temuan) yang dapat
dipercaya.
Persoalan bagaimana teknik membuat alat ukur yang handal dan
dapat dipercaya tampaknya sudah ada wilayah pembahasan sediri, termasuk pula
bagaiamana penggunaannya. Pembahasan makalah ini akan dibatasi hanya pada
persoalan bagaimana tindak lanjut
dari perolehan data setelah data terkumpul
melalui alat ukurnya sebab bagaimanapun lengkapnya data,
validitas dan reliabilitasnya terpenuhi, jika ternyata tidak ditindak lanjuti
dengan suatu analisis, maka data tersebut tidak akan memiliki sedikitpun arti
bagi sebuah penelitian kecuali sebuah pemborosan tenaga, waktu, dan bahkan
mungkin biaya. Sehubungan dengan hal tersebut, uraian berikut akan mencoba
menindak lanjuti data yang terkumpul supaya bisa memiliki fungsi sebagaimana
yang diharapkan oleh peneliti dalam aktivitas penelitiannya. Fokus pembahasan
makalah ini akan dibatasi pada analisis kuantitatif (data yang berupa
angka-angka).
B.
Pendekatan Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif dalam suatu penelitian dapat didekati dari
dua sudut pendekatan, yaitu analisis kuantitatif secara deskriptif, dan
analisis kuantitatif secara inferensial. Masing-masing pendekatan ini
melibatkan pemakaian dua jenis statistik yang berbeda. Yang pertama menggunakan
statistik deskriptif dan yang kedua menggunakan stastistik inferensial. Kedua
jenis statistik ini memiliki karakteristik yang berbeda, baik dalam hal teknik
analisis maupun tujuan yang akan dihasilkannya dari analisisnya itu (lihat
Sudijono:1987:4).
Sesuai dengan namanya, deskriptif hanya akan mendeskripsikan
keadaan suatu gejala yang telah direkam melalui alat ukur kemudian diolah
sesuai dengan fungsinya. Hasil pengolahan tersebut selanjutnya dipaparkan dalam
bentuk angka-angka sehingga memberikan suatu kesan lebih mudah ditangkap
maknanya oleh siapapun yang membutuhkan informasi tentang keberadaan gejala
tersebut. Dengan demikian hasil olahan data dengan statistik ini hanya sampai
pada tahap deskripsi, belum sampai pada tahap generalisasi. Dengan kata lain,
statistik deskriptif adalah statistik yang mempunyai tugas mengorganisasi dan
menganalisa data angka, agar dapat memberikan gambaran secara teratur, ringkas
dan jelas, mengenai suatu gejala, peristiwa atau keadaan, sehingga dapat
ditarik pengertian atau makna tertentu.
Statistik inferensial fungsinya lebih luas lagi, sebab dilihat
dari analisisnya, hasil yang diperoleh tidak sekedar menggambarkan keadaan atau
fenomena yang dijadikan obyek penelitian, melainkan dapat pula
digeneralisasikan secara lebih luas kedalam wilayah populasi. Karena itu,
penggunaan statistik inferensial menuntut persyaratan yang ketat dalam masalah
sampling, sebab dari persyaratan yang ketat itulah bisa diperoleh sampel yang
representatif; sampel yang memiliki ciri-ciri sebagaimana dimiliki populasinya.
Dengan sampel yang representatif maka hasil analisis inferensial dapat
digeneralisasikan ke dalam wilayah populasi.
C.
Jenis Data Statistik
Sudah dikenal bahwa statistik merupakan salah satu cara yang
banyak manfaatnya bagi peneliti untuk menganilis data. Satu modal penting yang
harus dikuasai terlebih dahulu oleh peneliti yang akan menggunakan teknik
statistik adalah pengertian mengenai jenis data yang akan dianalisis, agar
penggunaan data kuantitatif untuk keperluan analisis statistik tepat sasaran.
Atau sebaliknya, pemilihan jenis teknik statistik dapat dipilih secara tepat
sesuai dengan sifat-sifat atau jenis-jenis data yang dihadapi.
Dalam dunia statistik dikenal setidaknya terdapat empat jenis
data hasil pengukuran, yaitu data Nominal, Ordinal, Interval dan Rasio.
Masing-masing data hasil pengukuran ini memiliki karaktristik tersendiri
yang berbeda antara satu dengan lainnya.
1. Data Nominal
Data ini juga sering disebut data diskrit, kategorik, atau
dikhotomi. Disebut diskrit karena ini data ini memiliki sifat terpisah antara
satu sama lainnya, baik pemisahan itu terdiri dari dua bagian atau lebih; dan
di dalam pemisahan itu tidak terdapat hubungan sama sekali. Masing-masing
kategori memiliki sifat tersendiri yang tidak ada hubungannya dengan kategori
lainnya. Sebagai misal data hasil penelitian dikategorikan kedalam kelompok
“ya” dan “tidak” saja misalnya laki-laki/wanita (laki-laki adalah ya
laki-laki; dan wanita adalah “tidak laki-laki”), kawin /tidak kawin; janda/duda,
dan lainnya.
Data nominal selain contoh di atas terdapat pula yang berupa
angka-angka. Akan tetapi angka-angka tersebut bukan merupakan suatu atribut,
oleh sebab itu pada angka tersebut tidak berlaku hitungan matematis. Contoh
data ini misalnya nomor punggung pemain sepak bola, nomor rumah, nomor plat
mobil dan lainnya. Nomor-nomor tersebut semata-semata hanya menunjukkan simbol,
tanda, atau stribut saja.
2. Data Ordinal
Data ordinal adalah data yang menunjuk pada tingkatan atau
penjenjangan pada sesuatu keadaan. Berbeda dengan data nominal yang
menunjukkan adanya perbedaan secara kategorik, data ordinal juga memiliki sifat
adanya perbedaan di antara obyek yang dijenjangkan. Namun dalam perbedaan
tersebut terdapat suatu kedudukan yang dinyatakan sebagai suatu urutan bahwa
yang satu lebih besar atau lebih tinggi daripada yang lainnya.Kriteria urutan
dari yang paling tinggi ke yang yang paling rendah dinyatakan dalam bentuk
posisi relatif atau kedudukan suatu kelompok. Contoh dari data ini misalnya: prestasi
belajar siswa diklasifikasikan menjadi kelompok “baik”, “cukup”, dan “kurang”,
atau ukuran tinggi seseorang dengan “tinggi”, “sedang”, dan “pendek”.
Dalam kaitannya dengan analisis data, terhadap data ordinal
seringkali diberikan “skor’ sesuai dengan tingkatannya. Istilah “skor” diberi
tanda petik karena skor tersebut bukan skor sebenarnya, tetapi sebagai “tanda”
yang menunjukkan tingkatan.
Contoh:
“Baik”
…….. diberi tanda 3
“Cukup”
…….. diberi tanda 2
“Kurang” ……..
diberi tanda 1
Contoh lain data ordinal misalnya hasil ujian mahasiswa peserta
kuliah Statistik Pendidikan Budiman memperoleh skor 90, Rahmat 85, Musyafak 75,
dan Mahsunah 65. Berdasarkan skor-skor tersebut dibuatlah suatu jenjang
(rangking), sehingga terjadilah urutan jenjang ke 1 (90), ke 2 (85), ke 3 (75),
dan ke 4 (65).Data ordinal memiliki harga mutlak (dapat diperbandingkan) dan
selisih perbedaan antara urut-urutan yang berdekatan bisa tidak sama.
Data ordinal mempunyai nilai yang lebih tinggi dibandingkan
dengan data diskrit karena mempunyai tingkatan yang lebih banyak daripada data
diskrit yang hanya mempunyai dua kategori yaitu “ya” dan “tidak”.
3. Data Interval
Data interval tergolong data kontinum yang mempunyai tingkatan
yang lebih tinggi lagi dibandingkan dengan data ordinal karena mempunyai
tingkatan yang lebih banyak lagi. Data interval menunjukkan adanya jarak antara
data yang satu dengan yang lainnya.Contoh data interval misalnya hasil ujian,
hasil pengukuran tinggi badan, dan lainnya. Satu hal yang perlu diperhatikan
bahwa data interval tidak dikenal adanya nilai 0 (nol) mutlak. Dalam hasil
pengukuran (tes) misalnya mahasiswa mendapat nilai 0. Angka nol ini tidak dapat
diartikan bahwa mahasiswa tersebut benar-benar tidak bisa apa-apa. Meskipun ia
memperoleh nilai nol ia memiliki suatu pengetahuan atau kemampuan dalam
matakuliah yang bersangkutan. Nilai nol yang diberikan oleh dosen sebetulnya
hanya merupakan atribut belaka hanya saja pada saat ujian, pertanyaan yang
diujikan tidak pas seperti yang dipersiapkannya. Atau jawaban yang diberikan
tidak sesuai dengan yang dikehendaki soal.
4. Data Rasio
Data rasio merupakan data yang tergolong ke dalam data kontinum
juga tetapi yang mempunyai ciri atau sifat tertentu. Data ini memiliki sifat
interval atau jarak yang sama seperti halnya dalam skala interval. Namun
demikian, skala rasio masih memiliki ciri lain. Pertama harga rasio memiliki
harga nol mutlak, artinya titik nol benar-benar menunjukkan tidak adanya
suatu ciri atau sifat. Misalnya titik nol pada skala sentimeter menunjukkan
tidakadanya panjang atau tinggi sesuatu. Kedua angka skala rasio memiliki
kualitas bilangan riel yang berlaku perhitungan matematis. Misalnya berat badan
Rudi 70 kg, sedangkan Saifullah 35 kg. Keadaan ini dapat dirasiokan bahwa
berat badan Rudi dua kali berat badan Saifullah. Atau berat badan Saifullah
separuh dari berat badan Rudi. Berbeda dengan data interval misalnya Rudi
ujian dapat 70 sementara Saifullah memperoleh 30. Hal ini tidak dapat
diartikan bahwa kepandaian Rudi dua kali lipat kepandaian
Saifullah.
Data rasio dalam ilmu-ilmu sosial jarang dipergunakan, bahkan hampir
tidak pernah dipergunakan. Lapangan penggunaan data berskala rasio ini lebih
banyak berada dalam bidang ilmu-ilmu eksakta terutama fisika.
D. Teknik Analisis Kuantitatif
Sebagaimana dijelaskan di muka bahwa analisis kuantitatif dapat
didekati dari dua sudut pendekatan, yaitu analisis kuantitatif deskriptif dan
analisis kuantitatif inferensial. Bagaimana teknik penggunaan masing-masing
pendekatan tersebut berikut disajikan contoh penggunaannya.
1. Analisis Kuantitatif Deskriptif
Mengenai data dengan statistik deskriptif peneliti perlu
memperhatikan terlebih dahulu jenis datanya. Jika peneliti mempunyai data
diskrit, penyajian data yang dapat dilakukan adalah mencari frekuensi
mutlak, frekuensi relatif(mencari persentase), serta
mencari ukuran tendensi sentralnya yaitu: mode, median dan mean (lebih
lanjut lihat Arikunto, 1993: 363).
Fungsi statistik deskriptif antara lain mengklasifikasikan suatu
data variabel berdasarkan kelompoknya masing-masing dari semula belum teratur
dan mudah diinterpretasikan maksudnya oleh orang yang membutuhkan informasi
tentang keadaan variabel tersebut. Selain itu statistik deskriptif juga
berfungsi menyajikan informasi sedemikian rupa, sehingga data yang dihasilkan
dari penelitian dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkan.
Ciri analisis kuantitatif adalah selalu berhubungan dengan
angka, baik angka yang diperoleh dari pencacahan maupun penghitungan. Data yang
telah diperoleh dari pencacahan selanjutnya diolah dan disajikan dalam bentuk
yang lebih mudah dimengerti oleh pengguna data tersebut. Sajian data
kuantitatif sebagai hasil analisis kuantitatif dapat berupa angka-angka maupun
gambar-gambar grafik.
Seorang dosen Statistik Pendidikan tertarik untuk meneliti
Kemampuan Statistik Pendidikan mahasiswa. Untuk keperluan tersebut
peneliti melihat nilai Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Semester
dalam matakuliah yang diberikannya kepada 14 mahasiswa semester 4 di salah satu
perguruan tinggi. Setelah melakukan studi dokumenter diperoleh data sebagai
berikut:
Tabel 1
Skor Ujian Statistik Pendidikan Mahasiswa Semester V
|
Nama
Mahasiswa
|
Nilai
U T S
|
Nilai
U A S
|
Statistik
Pendidikan
|
|
A
|
65
|
70
|
67,5
|
|
B
|
70
|
73
|
71,5
|
|
C
|
75
|
80
|
77,7
|
|
D
|
73
|
71
|
72
|
|
E
|
60
|
75
|
67,5
|
|
F
|
65
|
72
|
68,5
|
|
G
|
74
|
80
|
77
|
|
H
|
68
|
74
|
71
|
|
I
|
67
|
78
|
72,5
|
|
J
|
65
|
78
|
71,5
|
|
K
|
80
|
82
|
81
|
|
L
|
78
|
81
|
79,5
|
|
M
|
76
|
78
|
77
|
|
N
|
72
|
80
|
76
|
|
N =
14
|
Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana kualifikasi kemampuan
mahasiswa tersebut dalam mata kuliah Statistik pendidikan, baik ditinjau dari
nilai Ujian Tengah Semester maupun Ujian Semester, skor-skor tersebut
dikonversi menjadi nilai. Pengkonversian skor menjadi nilai dapat dipergunakan
pendekatan Penilaian Acuan Norma (PAN) atau Penilaian Acuan Patokan (PAP). Jika
pendekatan pertama (PAN) yang dipergunakan, maka norma yang dijadikan standar
adalah nilai Rata-rata (Mean) dan Standar Deviasi (SD) masing-masing nilai
variabel. Namun, jika yang dipergunakan pendekatan kedua (PAP), maka standarnya
adalah standar nilai yang dimiliki oleh lembaga yang bersangkutan. Misalnya
STAIN Jember memiliki standar nilai prestasi hasil belajar mahasiswa sebagai
berikut:
Tabel 2
Standar Konversi dan Kualifikasinya
|
NO
|
SKOR
|
NILAI
|
KODE
|
KUALIFIKASI
|
|
1
2
3
4
5
|
80 – 100
70 – 79
60 – 69
50 – 59
0 – 49
|
4
3
2
1
0
|
A
B
C
D
E
|
Baik Sekali
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang
|
Dengan berpedoman pada standar di atas, maka skor hasil
pengukuran kemampuan Statistik Pendidikan yang terdapat pada tabel 1 dapat
dilakukan konversi. Melalui cara ini dapat diketahui distribusi nilai berikut
kualifikasinya. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 3
Kualifikasi Nilai Ujian Statistik Pendidikan Mahasiswa Semester
V
Jurusan Tarbiyah STAIN Jember TH. 2001/2002
|
Nama
Mhs
|
Nilai
UTS
|
Nilai
Ujian Semester
|
Statistik
Pendidikan
|
|||
|
Skor
|
Kw
|
Skor
|
Kw
|
Skor
|
Kw.
|
|
|
A
|
65
|
C
|
70
|
B
|
67,5
|
C
|
|
B
|
70
|
B
|
73
|
B
|
71,5
|
B
|
|
C
|
75
|
B
|
80
|
A
|
77,5
|
B
|
|
D
|
73
|
B
|
71
|
B
|
72
|
B
|
|
E
|
60
|
C
|
75
|
B
|
67,5
|
C
|
|
F
|
65
|
C
|
72
|
B
|
68,5
|
C
|
|
G
|
74
|
B
|
80
|
A
|
77
|
B
|
|
H
|
68
|
C
|
74
|
B
|
71
|
B
|
|
I
|
67
|
C
|
78
|
B
|
72,5
|
B
|
|
J
|
65
|
C
|
78
|
B
|
71,5
|
B
|
|
K
|
80
|
A
|
82
|
A
|
81
|
A
|
|
L
|
78
|
B
|
81
|
A
|
79,5
|
B
|
|
M
|
76
|
B
|
78
|
B
|
77
|
B
|
|
N
|
72
|
B
|
80
|
A
|
76
|
B
|
|
N =
14
|
1030
|
|||||
Langkah selanjutnya agar hasil konversi nilai memiliki makna
lebih jelas, maka dilakukan kualifikasi berdasarkan jenis-jenis variabel
beserta kualifikasinya. Tabel-tabel berikut merupakan hasil dari prosedur
pengerjaan ini. Dari tabel-tabel tersebut peneliti mulai bisa bicara sesuai
dengan keadaan yang termuat di dalamnya. Misalnya pada tabel 4 peneliti mulai
mendeskripsikan bahwa nilai Statistik Pendidikan mahasiswa Jurusan Tarbiyah
STAIN Jember Semeter V, tidak tampak (0%) yang berkategori/berkualifikasi
Kurang (D) dan Sangat Kurang (E) tidak tampak (0%). Kualifikasi nilai
mereka berkisar antara nilai Baik Sekali 7%, Baik sebesar 71,43%, dan
selebihnya berkualifikasi Cukup 21,43%. Secara umum dapat dikatakan bahwa nilai
Statistik Pendidikan yang diperoleh mahasiswa Jurusan Tarbiyah termasuk
Baik. Hal ini dapat dilihat pula dari nilai rata-ratanya, yaitu sebesar 73.57.
Tabel 4
Nilai Statistik Pendidikan Mahasiswa Jurusan Tarbiyah
|
Nilai
|
Ujian Teng. Sem.
|
Ujian Semester
|
Statistik Pend.
|
|||
|
F
|
%
|
F
|
%
|
F
|
%
|
|
|
A
B
C
D
E
|
1
7
6
0
0
|
7
50
42,86
0
0
|
5
9
0
0
0
|
35,71
64,29
0
0
0
|
1
10
3
0
0
|
7
71,43
21,43
0
0
|
2. Analisis Kuantitatif Inferensial
Pemakaian analisis inferensial bertujuan untuk menghasilkan
suatu temuan yang dapat digeneralisasikan secara lebih luas ke dalam
wilayah populasi. Di sini seorang peneliti akan selalu berhadapan dengan
hipotesis nihil (Ho) sebagai dasar penelitiannya untuk diuji secara empirik
dengan statistik inferensial.
Jenis statistik inferensial cukup banyak ragamnya,Peneliti
diberikan peluang sebebas-bebasnya untuk memilih teknik mana yang paling sesuai
(bukan yang paling disukai) dengan sifat/jenis data yang dikumpulkan. Secara
garis besar jenis analisis ini dibagi menjadi dua bagian. Pertama untuk jenis
penelitian korelasional dan kedua untuk komparasi dan/atau eksperimen.
Perhatikan tabel berikut:
Tabel 5
Jenis Data dan teknik Analisis Korelasi yang Tepat
|
Variabel
1
|
Variabel
2
|
Teknik
Analisis Korelasi
|
|
1.
Interval
2.
Ordinal (rangking)
3.
Rangking
1.
Dikhotomi buatan
2.
Dikhotomi
3.
Dikhotomi asli
4.
Dikhotomi buatan
5.
Dikhotomi asli
6.
Kategorik asli atau buatan
|
Interval
Ordinal (rangking)
Rangking
Interval
Interval
Interval
Dikhotomi buatan
Dikhotomi asli
Kategorik asli atau buatan
|
Product Moment
Tata jenjang (lebih tepat untuk N kurang dari 30
Tau dari Kendall (lebih tepat untuk N kurang dari 10)
Biserial
Wide Spread biserial
Point biserial
Tetrachoric
Korelasi Phi
Chi Kuadrat dilanjutkan Koefisien Kontingensi
|
(Suharsimi Arikunto, 1993: 422)
Untuk jenis penelitian Komparasi dan/atau eksperimen, jika hanya
dua variabel yang diperbandingkan, maka penggunaan t-tes lebih
tepat dengan memperhatikan besar kecilnya data serta sifat hubungan
variabelnya. Namun apabila lebih dari dua variabel, maka penggunaan analisis
varians akan lebih efektif dan efisien. Apalagi sekarang sudah cukup
memasyarakat penggunaan komputer sebagai sarana analisis data.
Mengingat waktu yang sangat terbatas, tentu tidak mungkin semua
teknik statistik tersebut akan dibahas. Pada bagian ini hanya akan diberikan
contoh analisis dengan teknik korelasi Tata Jenjang. Teknik korelasi ini
dipergunakan untuk melihat ada tidaknya hubungan antara dua variabel bebas (X)
dan variabel terikat (Y). Persyaratan yang harus dipenuhi di dalam mempergunakan
teknik ini selain datanya harus berskala ordinal, baik variabel X maupun
variabel Y, dan jumlah kasusnya kurang dari 30 kasus.
Data pada tabel 1 (mahasiswa Jurusan Tarbiyah) dapat
dipergunakan sebagai contoh analisis kuantitatif inferensial. Nilai Ujian
Tengah Semester dianggap variabel bebas (X) dan Nilai Ujian Semester sebagai
variabel terikat (Y). Berhubung teknik statistik inferensial selalu berhubungan
dengan hipotesis nihil (H0), maka terlebih dahulu harus dipersiapkan hipotesis
ujinya berupa hipotesis nihil. Misalnya sebagai berikut:
“Tidak ada hubungan antara nilai Ujian Tengah Semester dengan
nilai Ujian Semester pada mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Jember dalam mata
kuliah Statistik Pendidikan”
Selanjutnya dengan mempergunakan data dari tabel 1
(mahasiswa Jurusan Tarbiyah) dibuatkan tabel kerja sebagai berikut:
Tabel 1
Tabel Kerja Untuk Menghitung Koefisien Korelasi
Nilai Ujian Tengah Semester (X) dan Ujian Semester (Y)
Dalam Matakuliah Statistik Pendidikan
|
Nama
Mahasiswa
|
Nilai
|
Rangking
|
D
|
2
D
|
||
|
X
|
Y
|
X
|
Y
|
|||
|
A
|
65
|
70
|
12
|
14
|
- 2
|
4
|
|
B
|
70
|
73
|
8
|
11
|
– 3
|
9
|
|
C
|
75
|
80
|
4
|
4
|
0
|
0
|
|
D
|
73
|
71
|
6
|
13
|
– 7
|
49
|
|
E
|
60
|
75
|
14
|
9
|
5
|
25
|
|
F
|
65
|
72
|
12
|
12
|
0
|
0
|
|
G
|
74
|
80
|
5
|
4
|
1
|
1
|
|
H
|
68
|
74
|
9
|
10
|
– 1
|
1
|
|
I
|
67
|
78
|
10
|
7
|
3
|
9
|
|
J
|
65
|
78
|
12
|
7
|
5
|
25
|
|
K
|
80
|
82
|
1
|
1
|
0
|
0
|
|
L
|
78
|
81
|
2
|
2
|
0
|
0
|
|
M
|
76
|
78
|
3
|
7
|
– 4
|
16
|
|
N
|
72
|
80
|
7
|
4
|
3
|
9
|
|
N = 14
|
–
|
–
|
–
|
–
|
0
|
148
|
=
=
=
=
=
= 0,675
Bagaimana melakukan tes signifikansi terhadap hasil di
atas? Sama seperti korelasi Product Moment, maka koefisien korelasi hasil
perhitungan tersebut harus dikonsultasikan atau dibandingkan dengan nilai r
dalam tabel. Bedanya jika r product moment mempergunakan tabel product
moment, maka rho mempergunakan tabel Spearman. Tabel ini terdapat pada lampiran
buku-buku statistik. Jadi koefisien korelasi dari hasil perhitungan di atas
(rho = 0,675), jika dikonsultasikan dengan harga kritiknya ( r tabel).
Dengan N sebanyak 14 , dan tingkat signifikansi 5 % , maka harga r tabel
didapat sebesar 0,544. Berarti re > rt,
sehingga hasil uji tersebut membuktikan adanya hubungan yang signifikan
antara Nilai ujian Tengah Semester dengan Nilai Ujian Semester. Jadi andaikata
berbunyi:
“Tidak ada hubungan antara nilai Ujian Tengah Semester dengan
nilai Ujian Semester pada mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Jember dalam mata
kuliah Statistik Pendidikan”
Maka berdasarkan hasil uji di atas ditolak. Kita tidak
mempunyai alasan untuk menerimanyanya. Jadi kesimpulannya ialah kita menerima ,
yaitu ada ada hubungan yang positif antara nilai Ujian Tengah Semester
dengan nilai Ujian Semester pada mahasiswa Jurusan Tarbiyah STAIN Jember dalam
mata kuliah Statistik Pendidikan”
Artinya semakin baik nilai Ujian Tengah Semester, akan semakin
baik pula Nilai Ujian Semester Mata kuliah Statistik Pendidikan Mahasiswa
jurusan Tarbiyah STAIN Jember, dan sebaliknya semakin rendah nilai Ujian Tengah
Semester, semakin rendah nilai Ujian Semesternya.
E. Tes Signifikansi
Tes signifikansi artinya melakukan perbandingan antara nilai
hasil perhitungan dengan nilai yang ada di dalam tabel statistik. Perlu diingat
bahwa setiap jenis teknik statistik. Selalu disertai dengan angka-angka tabel,
sehingga ada yang berpendapat bahwa keterampilan statistik itu sebenarnya hanya
keterampilan membandingkan angka-angka perhitungan dengan angka-angka tabelnya.
Di dalam pembandingan tersebut jika nilai hasil
perhitungan nilai tabel, berarti signifikan (ditolak
dan diterima). Sebaliknya jika hasil perhitungan nilai tabel berarti non
signifikan ( diterima dan ditolak).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar