BAB I
LATAR
BELAKANG
A. Upaya-upaya Manusia untuk Memperoleh Kebenaran
1. Curiousity is Beginning of Knowledge
Pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) berawal
dari kekaguman
manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar (macro cosmos) maupun alam kecil (micro cosmos). Kekaguman tersebut kemudian
menyebabkan timbulnya rasa ingin tahu (curiousity). Rasa ingin tahu
manusia akan terpuaskan bila dirinya mendapatkan penjelasan menge nai
apa yang dipertanyakan.
Untuk itu manusia menempuh
berbagai upaya agar memperoleh
pengetahuan yang benar (kebenaran),
yang secara garis besar dibedakan menjadi dua : secara tradisional (pendekatan non ilmiah) dan secara
modern (pendekatan ilmiah).
2. Pendekatan Non ilmiah
Upaya untuk memperoleh
pengetahuan atau memahami fenomena-
fenomena tertentu ada yang dilakukan secara tradisional
atau non ilmiah. Upaya ini muncul di masyarakat
secara alami seiring dengan munculnya
berbagai fenomena atau masalah yang membutuhkan penjelasan. Ada
beberapa pendekatan non-ilmiah yang banyak dipakai untuk memperoleh pengetahuan atau kebenaran (Suryabrata, 2000: 3; Ary, Jacobs, dan Razavieh, 2000: 20) yaitu : a. akal sehat, b. prasangka,
c. intuisi,
d.penemuan kebetulan dan coba-coba (tral and error), e. pendapat otoritas
dan pikiran kritis , serta f. pengalaman (Sumadi Suryabrata, 2000 : 3).
3. Pendekatan Ilmiah (modern)
Dengan pendekatan ilmiah manusia berusaha memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang dapat dipertanggung jawaban secara rasional dan empiris. Kebenaran
semacam ini dapat
diperoleh
dengan
metoda
ilmiah (scientific method).
Metoda ilmiah dapat dibedakan menjadi dua macam (Johnson, 2005) , yaitu :
a. Deductive
method involved the following three steps
:
1) State the hypothesis (based on theory or research literature);
2) Collect data to test hypothesis;
3) Make decision to accept or reject the hypothesis.
b. Inductive
method. This approach
also involves three steps:
1) Observe the world;
2) Search for a pattern in what
is observed;
3) Make a generalization about what is occuring.
Kedua metoda tersebut selanjutnya oleh Johnson divisualisasikan
sebagai berikut.
B. Pengertian Penelitian
1. Tinjauan secara Etimologis
Secara etimologis, istilah research
berasal dari dua kata, yaitu re dan
search. Re berarti kembali atau berulang-ulang dan search berarti mencari,
menjelajahi,
atau
menemukan makna. Dengan demikian
penelitian atau research berarti mencari, menjelajahi atau
menemukan makna kembali secara berulang-ulang (Sudarwan Danim dan Darwis,
2003 : 29).
2. Menurut Ary, Jacobs, dan Razafieh (1992 :
44)
Penelitian dapat
dirumuskan sebagai
pendekatan ilmiah
pada
pengkajian masalah.
Penelitian merupakan usaha sistematis
dan objektif untuk mencari
pengetahuan yang dapat dipercaya.
3. Menurut Ostle (Moh. Nazir, 1997 : 15)
Penelitian dengan mengunakan metoda
ilmiah (scientific method)
disebut penelitian
ilmiah (scientific research).
Dalam penelitian ilmiah selalu ditemukan 2 unsur penting,
yaitu unsur
observasi
(empiris) dan nalar (rasional).
Dari beberapa
pendapat tersebut dapat disimpulkan
bahwa penelitian
ilmiah merupakan suatu proses yang dilakukan secara sistematis dan objektif
yang melibatkan unsur penalaran
dan observasi untuk menemukan,
memferivikasi, dan
memperkuat teori serta untuk memecahkan masalah yang
muncul dalam kehidupan.
C. Tujuan Penelitian
Ada tujuan tertentu yang akan dicapai melalui penelitian. Berdasarkan kesimpulan tentang pengertian penelitian sebagaimana dikemukakan di atas
dapat diidentifikasi tujuan penelitian, yaitu sebagai berikut.
1. Untuk memperoleh
data empiris yang dapat digunakan dalam
merumuskan, memperluas, dan memverifikasi
teori. Tujuan penelitian seperti ini dimiliki oleh ilmu-ilmu murni (pure science)
2. Untuk
memecahkan persoalan
yang ada dalam kehidupan. Tujuan
penelitian semacam ini terdapat pada ilmu-ilmu terapan (applied sciences)
D. Ragam Penelitian
Penelitian dapat diklasifikasikan menjadi bermacam-macam. Klasifikasi
tersebut dapat dilakukan berdasarkan
beberapa tinjauan yaitu : bidang ilmu,
pendekatan, tempat pelaksanaan, pemakaian, tujuan umum, taraf, metoda, dan
ada tidaknya intervensi terhadap
variabel.
1. Klasifikasi Penelitian berdasarkan Bidang Ilmu
Ada bermacam-macam
bidang ilmu dan jika penelitian dilakukan untuk
bidang ilmu tertentu maka ragam penelitian yang dilakukan disebut sesuai dengan bidang ilmu tersebut. Dengan demikian
ditinjau berdasarkan bidang-bidang ilmu yang ada penelitian
dapat dibedakan menjadi : a.
penelitian pendidikan, b. penelitian kedokteran, c. penelitian keperawatan, d. penelitian kebidanan, e. penelitian ekonomi,
f.
penelitian pertanian, g. penelitian biologi, h. penelitian sejarah, dst.
2. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Pendekatan yang Dipakai
Berdasarkan pendekatan yang dipakai,
penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian kuantitatif dan penelitian
kualitatif. Masing-masing
pendekatan tersebut memiliki paradigma, asumsi, karakteristik sendiri- sendiri. Kedua pendekatan penelitian tersebut dapat dilakukan dengan
cara simultan dan saling mengisi sesuai dengan kebutuhan, sehingga
dapat diwujudkan proses penelitian yang komprehensif.
3. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tempat Pelaksanaannya :
Penelitian dapat dilakukan diberbagai tempat, yaitu diperpustakaan, lapangan, laboratorium atau gabungan dari tempat- tempat tersebut. Atas dasar tinjauan tersebut penelitian dibedakan menjadi : a. penelitian perpustakaan
(library research), b. penelitian
laborartorium (laboratory
research), dan c. penelitian
lapangan (field research)
4. Klasfikasi Penelitian Ditinjau berdasarkan Pemakaiannya
Hasil penelitian dapat dipakai untuk mengembangkan
dan memverifikasi terori serta memecahkan masalah. Atas dasar tinjauan
ini penelitian dapat dibedakan menjadi :
a. Penelitian penelitian murni (pure research atau basic research)
Penelitian murni atau
penelitian
dasar
merupakan penelitian
yang dilakukan dengan maksud hasil penelitian tersebut dipakai
untuk mengembangkan dan memverifikasi teori-teori
ilmiah.
b. Penelitian terapan (applied research).
Penelitian terapan
adalah ragam
penelitian dimana hasilnya
diterapkan berkenaan dengan upaya pemecahan masalah .
5. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tujuan Umumnya
Berdasarkan tujuan umumnya, penelitian dibedakan menjadi :
penelitian eksploratif, penelitian
pengembangan, dan penelitian
verifikatif.
a. Penelitian eksploratif, adalah
penelitian yang dilakukan
dengan tujuan untuk
mengekplorasi
fenomena yang
menjadi
sasaran penelitian.
a. Penelitian pengembangan
(developmental research), adalah penelitian yang dilakukan untuk mengembangan suatu konsep atau prosedur tertentu.
b. Penelitian verifikatif, merupakan penelitian
yang dilakukan
dengan tujuan membuktikan kebenaran suatu teori pada waktu dan
tempat tertentu.
6. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tarafnya
Penelitian ditinjau berdasarkan tarafnya dibedakan menjadi dua,
yaitu penelitian deskriptif dan penelitian
analitik. Penelitian deskriptif
merupakan penelitian pada taraf mendiskripsikan
variable yang diteliti tanpa dilakukan analisis dalam keterkaitannya
dengan variable lainnya.
Sedangkan jika penelitian dilakukan
bukan sekadar mendiskripsikan
variable penelitian
tetapi dilakukan analisis dalam
hubungannya dengan
variable-variabel lainnya disebut penelitian analitik.
7. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Metode
Berdasarkan metode yang dipakai, penelitian dibedakan menjadi penelitian longitudinal dan penelitian
cross-sectional. Penelitian longitudinal (longitudinal research) adalah penelitian yang dilakukan
dengan metode longitudinal
(longituninal method), yaitu metode penelitian yang membutuhkan waktu
yang
lama,
berbulan-bulan
bahkan bertahun, secara berkesinambungan.
Sedangkan penelitian cross-sectional (cross-sectional research) merupakan
penelitian yang dilakukan dengan metode cross-sectional (cross-sectional method),
yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan mengambil waktu
tertentu yang relative
pendek dan tempat tertentu.
8. Klasifikasi Penelitian
Berdasarkan Intervensi terhadap
Variabel
Penelitian dapat dilakukan di mana peneliti melakukan intervensi atau perlakuan terhadap variable
tertentu. Jika tindakan tersebut
dilakukan maka penelitian semacam itu tergolong
penelitian eksperimen. Sebaliknya jika
tidak dilakukan
intervensi
terhadap
variabel maka penelitian tersebut tergolong penelitian
eksperimen.
E. Unsur-unsur Penelitian
Penelitian merupakan
sistem berpikir dan bertindak,
artinya ada berbagai faktor dan tindakan yang harus dipikirkan
dan
dilakukan sehingga tujuan bisa
tercapai. Sebagai suatu sistem, penelitian terdiri dari berbagai unsur yang saling berhubungan secara fungsional.
Sebagai suatu sistem, penelitian memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1. permasalahan
2. teori
dan konsep-konsep ilmiah
3. variabel
4. hipotesis (fakultatif)
5. populasi, sampel, dan teknik sampling
6. data
7. instrumen pengumpul data
8. teknik
analisis data
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penelitian Kuantitatif
1. Definisi Penelitian Kuantitatif
Kasiram (2008: 149) dalam bukunya Metodologi
Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, mendifinisikan
penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa
angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai
apa yang ingin diketahui.
2. Asumsi Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif
didasarkan pada asumsi sebagai berikut (Nana
Sudjana dan Ibrahim, 2001; Del Siegle, 2005, dan Johnson, 2005).
a. Bahwa realitas yang menjadi sasaran penelitian berdimensi tunggal,
fragmental, dan cenderung bersifat tetap sehingga dapat diprediksi.
b. Variabel dapat diidentifikasi dan diukur
dengan alat-alat yang objektif dan baku.
3. Karakeristik Penelitian Kuantitatif
Karakteristik penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut (Nana Sudjana
dan Ibrahim, 2001 : 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002 : 11; Johnson,
2005; dan Kasiram 2008: 149-150) :
a. Menggunakan pola berpikir deduktif (rasional – empiris atau top- down), yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara menggunakan
konsep-konsep yang umum untuk menjelaskan
fenomena-fenomena yang bersifat khusus.
b. Logika
yang dipakai adalah logika positivistik dan menghundari hal- hal yang bersifat subjektif.
c. Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
d. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyususun
ilmu nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hokum-hukum dari generalisasinya.
e. Subjek
yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan
sumber data yang
dibutuhkan, serta alat pengumpul data yang dipakai
sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
f. Pengumpulan data
dilakukan melalui pengukuran dengan mengguna-
kan alat yang objektif dan baku.
g. Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian,
dalam arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek penelitian.
h. Analisis data dilakukan setelah
semua data terkumpul.
i. Hasil penelitian
berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks
waktu dan situasi.
3. Prosedur Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif
pelaksanaannya
berdasarkan prosedur yang telah
direncanakan sebelumnya. Adapun prosedur penelitian kuantitatif terdiri
dari tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut.
a. Identifikasi permasalahan
b. Studi literatur.
c. Pengembangan kerangka konsep
d. Identifikasi dan definisi variabel, hipotesis, dan pertanyaan penelitian. e. Pengembangan disain penelitian.
f. Teknik
sampling.
g. Pengumpulan dan kuantifikasi data.
h. Analisis data.
i. Interpretasi dan komunikasi hasil penelitian.
4. Tipe-tipe Penelitian Kuantitatif
Dalam melakukan penelitian, peneliti dapat menggunakan metoda dan
rancangan (design) tertentu dengan mempertimbangkan tujuan penelitian
dan sifat masalah yang dihadapi.
Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya, penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi beberapa
tipe sebagai berikut (Suryabrata, 2000 : 15 dan Sudarwan Danim dan Darwis,
2003 : 69 – 78).
a. Penelitian deskriptif
b. Penelitian korelational
c. Penelitian kausal
komparatif d. Penelitian tindakan
e. Penelitian perkembangan
f. Penelitian eksperimen
5. Metode Penelitian Kuantitatif
Metode yang dipergunakan dalam penelitian kuantitatif, khusunya kuantitatif analitik adalah metode dedutif. Dalam metoda ini teori ilmiah yang telah diterima kebenarannya dijadikan acuan dalam mencari kebenaran
selanjutnya.
Jujun S. Suriasumantri
dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif
Moral, Sosial, dan Politik
(2000:
6) menyatakan bahwa
pada
dasarnya
metoda ilmiah
merupakan cara ilmu memperoleh dan
menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan : a) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang
bersifat
konsisten dengan pengetahuan
sebelumnya yang
telah berhasil disusun; b) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran
tersebut; dan c) melakukan
verifikasi terhadap hipotesis
termaksud untuk menguji kebenaran
pernyataannya secara faktual.
Selanjutnya Jujun menyatakan bahwa kerangka berpikir ilmiah yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut
(Suriasumantri, 2005 : 127-128).
a) Perumusan masalah,
yang
merupakan pertanyaan mengenai objek
empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor- faktor yang terkait
di dalamnya.
b) Penyusunan kerangka berpikir dalam penyusunan hipotesis yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat
antara berbagai faktor yang saling mengait dan
membentuk
konstelasi permasalahan.
Kerangka berpikir ini
disusun secara
rasional berdasarkan premis-premis
ilmiah yang telah teruji
kebenarannya dengan memperhatikan
faktor-faktor empiris yang relevan
dengan permasalahan.
c) Perumusan hipotesis yang
merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan
yang diajukan
yang materinya merupakan
kesimpulan dari dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
d) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang
relevan dengan hipotesis, yang
diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau tidak.
e) Penarikan
kesimpulan yang
merupakan penilaian apakah hipotesis
yang diajukan itu ditolak atau diterima.
Langkah-langkah atau prosedur penelitian tersebut kemudian oleh Jujun
S. Suriasumantri divisualisasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut
B. Penelitian Kualitatif
1. Definisi Penelitian Kualitatif
Moleong setelah melakukan analisis terhadap beberapa definisi
penelitian kualitatif kemudian membuat definisi sendiri sebagai sisntesis dari
pokok-pokok pengertian penelitian kualitatif. Menurut Moleong (2005: 6) penelitian kualitatif adalah
penelitian yang
bermaksud untuk memahami fenomena
tentang apa yang dialami oleh
subjek
penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi , tindakan, dll. secara holistic,
dan dengan cara
deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus
yang alamiah dahn dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
2. Asumsi Penelitian Kualitatif
Anggapan yang mendasari
penelitian kualitatif adalah bahwa kenyataan sebagai suatu yang berdimensi jamak, kesatuan, dan berubah-ubah
(Nana Sudjana dan Ibrahim,
2001
:
7).
Oleh
karena itu tidak mungkin dapat
disusun rancangan penelitian yang terinci dan fixed sebelumnya. Rancangan
penelitian berkembangan selama proses penelitian.
2. Karakteristik Penelitian Kualitaif
Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik, metode fenomenologis, metode
impresionistik, dan metode post positivistic.
Adapun karakteristik penelitian jenis ini adalah sebagai berikut
(Sujana dan Ibrahim,
2001 : 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002: 11-12; Moleong,
2005: 8-11;
Johnson, 2005, dan Kasiram, 2008: 154-155).
a. Menggunakan pola berpikir induktif (empiris – rasional
atau bottom- up).
Metode kualitatif sering
digunakan untuk menghasilkan grounded
theory, yaitu teori yang timbul dari data bukan dari hipotesis seperti dalam metode kuantitatif. Atas dasar itu penelitian bersifat generating
theory, sehingga teori yang dihasilkan berupa teori substansif.
b. Perspektif emic/partisipan
sangat iutamakan
dan
dihargai tinggi.
Minat peneliti
banyak tercurah
pada bagaimana
persepsi dan makna menurut sudut pandang
partisipan yang diteliti,
sehingga bias menemukan apa yang disebut sebagai fakta fenomenologis.
c. Penelitian kualitatif tidak menggunakan
rancangan penelitian yang baku.
Rancangan pene-litian
berkembang selama proses
penelitian.
d. Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami, mencari makna di balik data, untuk menemukan kebenaran, baik kebenaran
empiris
sensual, empiris logis, dan empiris logis.
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan,
sumber data yang
dibutuhkan, dan alat pengumpul data bisa
berubah-ubah
sesuai dengan kebutuhan.
f. Pengumpulan
data
dilakukan atas dasar
prinsip fenomenologis,
yaitu dengan memahami secara
mendalam gejala atau fenomena yang
dihadapi.
g. Peneliti berfungsi pula sebagai alat pengumpul data sehingga keberadaanya tidak terpisahkan dengan apa yang diteliti.
h. Analisis data dapat dilakukan selama penelitian sedang dan telah
berlangsung.
i. Hasil penelitian berupa
deskripsi dan interpretasi
dalam konteks waktu
serta situasi tertentu.
3. Prosedur Penelitian Kualitatif
Prosedur pelaksanaan
penelitian kualitatif
bersifat fleksibel
sesuai
dengan kebutuhan, serta situasi
dan kondisi di lapangan. Secara garis besar
tahapan penelitian kualitatif adalah sebagai berikut
(Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 80)
a. Merumuskan masalah sebagai fokus penelitian. b. Mengumpulkan data di lapangan.
c. Menganalisis data.
d. Merumuskan hasil studi.
e. Menyusun rekomendasi untuk pembuatan
keputusan.
4. Tipe-tipe Kualitatif
Penelitian dengan pendekatan
kualitatif dapat dibedakan menjadi lima
tipe utama, yaiu : phenomenology, ethnography, case study research,
grounded theory, dan historical
research (Johnson, 2005 : 8)
a. Phenomenology : a
form of qualitative research
in which the
researcher attempts to understand
how
one or more individuals experience a phenemenon.
b. Ethnography : is the form of qualitative research that focuses on
describing the culture of a group of people.
c. Case study research : is
a form of qualitative research
that focused on providing a detailed account
of one or more cases.
d. Grounded theory :
is a qualitative approach to generating and
developing a theory form data that the researcher collects.
e. Historical research : research about events
that occurred in the pasti
BAB III
METODOLOGI PENULISAN
Penelitian dapat dipandang
sebagai sistem berpikir
dan bertindak yang diarahkan pada pencapaian tujuan. Sebagai
suatu sistem, penelitian memiliki
berbagai komponen yang saling berhubungan sebagai suatu kesatuan.
Komponen-komponen penelitian adalah sebagai berikut.
A. Permasalahan
1. Hakikat Permasalahan
Masalah atau problem dapat diartikan sebagai jarak antara apa yang diharapkan (das Sollen) dengan apa yang terwujud atau tercapai (das
Sein). Masalah menunjukkan adanya ketidak sesuaian antara apa yang
diinginkan dengan apa yang terwujud atau tercapai.
2. Sumber Masalah Penelitian
Sumber masalah penelitian menurut Turney dan Noble (Sudarwan
Danim dan Darwis, 2003 : 93-97) adalah
sebagai berikut :
a. Pengalaman pribadi.
Pengalaman
pribadi dapat berupa pengalaman masa lampau dan kekinian. Upaya mewujudkan
pengalaman pribadi
menjadi permasalahan penelitian dapat dilakukan dengan :
1) Mengidentifikasi pengalaman pribadi untuk fokus penelitian.
2) Mengidentifikasi sebab-sebab munculnya masalah tersebut.
3) Membuat keputusan pribadi
selaku
calon peneliti untuk
memecahkan masalah tersebut.
4)
Merumuskan masalah penelitian.
b. Informasi yang diperoleh secara kebetulan.
Di mana pun, dari mana
pun, dan kapan pun calon
peneliti berpeluang memperoleh informasi penting dan menarik untuk dijadikan topik penelitian. Berdasarkan
informasi yang diperoleh
secara kebetulan , calon peneliti dapat merumuskan
masalah penelitian dengan latar belakang dan tujuan, serta hasil
akhir yang diharapkan.
Untuk mewujudkan
informasi tersebut menjadi permasalahan
penelitian, dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut.
1) Mengembangkan kepekaan selaku peneliti dalam merespons
fenomena yang relevan.
2) Mendefinisikan keterangan yang diperoleh secara spesifik.
3) Mengidentifikasi penyebab munculnya masalah.
4) Membuat keputusan pribadi
selaku
calon peneliti untuk
memecahkan masalah tersebut.
5) Merumuskan masalah penelitian.
c. Kerja dan kontrak profesional
Banyak peneliti mengembangkan atau merumuskan pertanyaan
penelitian mereka sebagai bagian aktivitas pekerjaan atau diskusi dengan rekan sekerja. Pada banyak kasus, diskusi formal dan
informal yang dilakukan oleh peneliti dengan rekan atau
kelompok ahli lain sangat membantu
upaya penajaman terhadap masalah, baik teoritis maupun praktis (Sudarwan Danim dan Darwis,
2003 : 95).
Melalui diskusi akademik, masalah penelitian
dipertajam dan dirumuskan. Untuk tujuan ini peneliti dapat menempuh langkah-
langkah sebagai berikut.
1) Mendifinisikan
masalah bersama rekan sekerja.
2) Mengidentifikasi penyebab munculnya masalah.
3) Membuat keputusan untuk mengadakan penelitian.
4) Merumuskan pertanyaan penelitian.
d. Pengujian dan pengembangan teori
Tujuan penelitian antara lain adalah untuk melahirkan
teori-teori baru dan merevisi
teori yang telah ada yang ternyata sudah tidak relevan lagi dengan kenyataan sekarang. Langkah-langkah
yang
dapat ditempuh oleh peneliti berkenaan berkenaan dengan hal tersebut adalah :
1) Memahami teori-teori yang relevan
dengan bidangnya.
2) Menelaah proses penelitian sehingga diperoleh teori tersebut.
3) Membuat keputusan untuk menyelenggarakan penelitian.
4) Menentukan waktu dan situasi penelitian yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.
5) Merumuskan masalah penelitian.
e Analisis literatur professional dan hasil penelitian sebelumya.
Masalah penelitian banyak diperoleh melalui penelaahan terhadap literatur professional dan laporan
atau jurnal hasil penelitian. Dari
hasil analisis terhadap
literatur, laporan, jurnal, tsb. peneliti
memilih dan merumuskan masalah
penelitiannya.
3. Kriteria dalam PemilihanMmasalah
Tidak setiap masalah layak untuk diangkat sebagai topik penelitian.
Untuk memilih masalah
mana yang layak untuk diteliti, ada beberapa
kriteria yg. dapat dipakai, yaitu sebagai berikut (Sudarwan
Danim
dan Darwis, 2003 : 91-92).
a. Apakah
masalah itu sesuatu yang baru,
relatif
belum banyak diteliti?
Untuk itu calon peneliti perlu menelaah beberapa hal, seperti :
1) Isu-isu yang muncul kekinian.
2) Isu-isu yang unik.
3) Penelitian sejenis
pada skala institusi.
4) Penelitian sejenis
pada skala wilayah.
5) Penelitian sejenis
pada skala nasional.
6) Penelitian sejenis
pada skala internasional.
7) Penelitian sejenis
menurut periode waktu.
b. Apakah masalah itu mengundang rasa ingin tahu peneliti atau pihak
luar yang akan membaca atau
memanfaatkan hasil
penelitian itu ?
Untuk itu peneliti perlu memperhatikan :
1) Nilai
teoritis hasil penelitian
bagi dirinya dan juga pihak lain
seprofesi.
2) Nilai
teortis hasil
penelitian bagi
pengembangan ilmu
sebagaimana yang diteliti.
3) Nilai
praktis
hasil
penelitian bagi
dirinya dan juga
bagi profesinya.
c Apakah masalah yang diplih berada dalam lingkup
keilmuan yang ditekuni oleh peneliti selama ini ?
d Adakah alat, bahan, dan
metoda kerja
yang
akan
dipakai memungkinkan
terlaksananya pengkajian terhadap fakus masalah yang
dipilih ?
Beberapa hal khusus yang perlu
dipertimbangkan adalah
:
1) Ada atau tidaknya alat / bahan pendukung penelitian.
2) Ketersediaan biaya penelitian.
3) Fasilitas pendukung lainnya, seperti
keterbukaan sumber data, masalah perijinan dari instansi terkait.
4) Metode
penelitian yang dipakai menurut situasi dan karakteristik spesifik subjek
penelitian.
e Apakah segi-segi teknik berikut ini
memungkinkan
terselenggaranya penelitian sesuai dengan fokus masalah ?
1) Ketahanan fisik peneliti.
2) Ketahanan psikologis peneliti.
3) Kesediaan peneliti menyediakan
waktu
untuk mengkaji
fokus
penelitian secara memadai.
4) Kapasitas peneliti dalam bekerja sama dengan pihak lain.
4. Perumusan Masalah
Apabila permasalahan yang akan diteliti telah ditetapkan, langkah
berikutnya adalah merumuskan
masalah.
Tuckman (dalam Sudarwan
Danim dan Darwis, 2003 : 99) mengemukakan beberapa
kirteria dalam merumuskan masalah, yaitu :
a. Bersifat kausalitas atau menghubungkan dua variabel
atau lebih. b. Dapat
diukur secara empiris dan objektif.
c. Dinyatakan secara
jelas dan tidak bermakna ganda,
lebih baik dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
d. Tidak mencerminkan
ambisi pribadi atau masyarakat, dan tidak
pula menuntut jawaban dengan
pertimbangan moral subjektif.
B. Teori Ilmiah
1.
Pengertian Teori Ilmiah
a. Teori ilmiah
adalah
suatu
himpunan pengertian
(contruct
atau
concept) yang saling berkaitan, batasan, serta proposisi yang menyajikan pandangan sistematis tentang gejala-gejala
dengan jalan menetapkan
hubungan yang ada di antara variable-variabel, dan dengan tujuan untuk menjelaskan
serta meramalkan gejala-gejala tersebut (Ary, et al, 2000: 36).
b. Teori ilmiah adalah sebuah set proposisi yang terdiri
dari konsep- konsep
yang telah didefinisikan secara jelas.
c. Teori ilmiah adalah penjelasan
mengenai hubungan
antar konsep atau
variabel.
d. Teori ilmiah adalah penjelasan mengenai
fenomena-fenomena dengan cara
menspesifikasikan hubungan
antar variabel.
2. Kegunaan Teori Ilmiah dalam Penelitian
Pentingnya
teori ilmiah
dalam penelitian dapat disebutkan sebagai
berikut
a. Sebagai acuan dalam pengkajian suatu masalah.
b. Sebagai dasar dalam merumuskan kerangka
teoritis penelitian.
c. Sebagai dasar dalam merumuskan hipotesis.
d. Sebagai informasi untuk menetapkan cara pengujian
hipotesis.
e. Untuk mendapatkan informasi historis dan perspektif permasalahan yang akan diteliti.
f. Memperkaya ide-ide baru.
g. Untuk mengetahui siapa saja peneliti lain dan pengguna
di bidang yang sama.
3. Hubungan teori ilmiah dengan fakta.
Dalam penelitian
ilmiah, teori ilmiah
tidak terpisahkan dari
fakta.
Hubungan antara keduanya adalah :
a. Fakta memprakarsai teori ilmiah.
b. Fakta memformulasikan kembali teori-teori ilmiah.
c. Fakta dapat dijadikan dasar untuk menolak teori ilmiah. d.
Fakta memperjelas teori ilmiah.
BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISIS
A. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Salah satu kegiatan penelitian adalah pengumpulan
data. Kegiatan pengum-
pulan data dilakukan dengan
teknik tertentu dan menggunakan alat tertentu yang sering disebut instrumen penelitian. Data yang diperoleh dari proses tersebut kemudian dihimpun, ditata,
dianalisis untuk menjadi informasi yang dapat
menjelaskan suatu fenomena atau keterkaitan
antara fenomena. Secara
garis besar teknik pengumpulan data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu teknik
tes dan nontes.
1. Teknik Tes
a. Pengertian teknik tes
Teknik tes adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan serentetan soal atau tugas serta alat lainnya kepada subjek yang diperlukan datanya.
Pengumpulan data dengan menggunakan teknik tes dapat disebut
sebagai pengukuran (measurement). Teknik semacam
ini banyak
digunakan dalam penelitian kuantitatif.
b. Jenis-jenis instrumen untuk teknik tes
Ditinjau berdasarkan
sasaran atau objek yang diukur,
instrument untuk
teknik tes dapat dibedakan menjadi sebagai
berikut .
1) Tes hasil belajar (achievement test)
2) Tes kepribadian (personality test)
3) Tes bakat (aptitude test)
4) Tes inteligensi (intelligence test)
5) Tes sikap (attitude test)
6) Tes minat (interest test)
2. Teknik Nontes
Pengumpulan data penelitian dapat pula dilakukan dengan teknik non tes,
yaitu dengan tidak memberikan soal-soal atau tugas-tugas kepada subjek yang diperlukan datanya. Dalam teknik non tes, data dari subjek penelitian dikumpulkan dengan :
a. wawancara;
b. kuesioner;
c. observasi;
d. pencatatan dokumen.
Instrumen untuk teknik tersebut
pada penelitian kuantitatif adalah :
pedoman wawancara,
kuesioner atau angket, pedoman observasi, tabel- tabel, kolom-kolom, ataupun alat rekam elektronik yang dapat dipakai untuk menyimpan data.
Sedangkan pada
penelitian
kualitatif di
samping
instrument tersebut di atas peneliti juga merupakan instrumen.
B. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas
a. Pengertian validitas
Validitas mengacu pada kemampuan instrument pengumpulan
data untuk mengukur apa yang harus diukur, untuk mendapatkan data yang relevan dengan apa yang sedang diukur (Dempsey dan Dempsey, 2002 :
79). Dengan kata
lain sebuah instrumen dianggap memiliki validitas yang tinggi jika instrumen
tersebut benar-benar dapat dijadikan
alat
untuk mengukur sesuatu secara tepat. Validitas merupakan
ciri yang harus
dimiliki oleh instrument pengukuran karena berhubungan langsung dengan dapat tidaknya data dipercaya kebenarannya.
b. Macam-macam validitas
1) Validitas
subjektif
Validitas subjektif merupakan jenis validitas yang kriterianya
sepenuhnya ditentukan berdasarkan
pertimbangan peneliti,
baik pertimbangan nalar
maupun pengalaman keilmuannya (Sudarwan
Danim
dan Darwis, 2003 : 250).
2) Validitas
isi
a) Validitas isi menunjuk pada sejauh mana instrument tersebut mencerminkan isi yang dikehendaki (Donald Ary dkk., 1992 :
283).
b) Vailiditas isi ialah derajat di mana sebuah instrument mengukur cakupan subsansi yanghendak diukur (Sukardi, 2004 : 123).
3) Validitas
criteria
Validitas criteria menunjuk pada hubungan
antara skor yang diperoleh dengan memakai instrument
tertentu dengan suatu variable luar (sebagai
kriteria) yang mandiri
dan dipercaya dapat
mengukur langsung fenomena yang diselidiki (Donald Ary dkk., 1992 : 284)
4) Validitas
konstruk (construct validity)
1) Contsruct validity
atau validitas bangunan pengertian menunjuk kepada sejauh mana hasil pengukuran dapat ditafsirkan menurut bangunan pengertian tersebut (Donald Ary dkk., 1992 : 288).
2) Validitas konstruk merupakan
derajat yang menunjukkan bahwa suatu instrument dapat mengukur sebuah
konstruk sementara atau hypothetical construct (Sukardi, 2004 : 2004).
3) Construct
validity dipilih bila fenomena tidak dapat diukur
secara langsung sehingga pengukuran dilakukan terhadap indikator-
indikator atau
unsur-unsur yang
membentuk
construct atau
konsep tersebut.
2. Reliabilitas
a. Pengertian Reliablitas
Reliabilitas instrumen adalah tingkat konsistensi hasil
yang dicapai
oleh sebuah alat ukur,
meskipun dipakai
secara berulang-ulang pada subjek yang sama atau berbeda. Dengan demikian suatu instrumen dikatakan reliabel bila mampu mengukur sesuatu dengan hasil yang
konsisten (ajeg).
b. Cara menentukan indeks reliabilitas
Ada beberapa cara untuk menentukan indeks reliabilitas instrumen, yaitu : metoda belah dua, metode tes ulang, metoda kesamaan rasional,
dan metoda paralel (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 254).
1) Metoda belah dua
Metoda belah dua dilakukan dengan jalan
memilah satu instrument ke dalam
dua bagian yang sama banyak,
bagian pertama memuat
unsure
yang bernomor ganjil dan bagian
lain untuk yang bernomor genap.
2) Metoda tes ulang
Anggapan dasar metoda ini adalah suatu instrument memiliki
reliabilitas yang tinggi bila dipergunakan pada subjek-subjek yang sama dengan waktu yang berbeda
namun hasilnya sama atau
mendekati sama.
3) Metoda kesamaan rasional
Metode ini dikembangkan oleh Kuder dan Richarson dengan titik
tekan kesamaan semua butir pertanyaan yang ada pada instrument tes, baik pada ranah maupun tingkat kesukarannya.
Artinya metoda ini
hanya dimaksudkan untuk
mengukur reliabilitas yang
mempunyai
satu sifat (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 256).
4) Metoda paralel
Metoda paralel sering pula disebut
reliabilitas bentuk setara
(equivalent-form reliability),
yang
mempunyai
dua bentuk
instrument. Metoda parallel dilakukan dengan dua kemungkinan.
Pertama, dua orang peneliti menggunakan instrument yang
sama untuk
mengukur variabel yang sama dengan menggunakan responden dan waktu yang sama. Kedua, peneliti tunggal menggunakan
instrumen yang berbeda untuk mengukur variabel yang sama dengan
menggunakan responden dan waktu yang sama pula.
C. Beberapa Kesalahan dalam Pengukuran
Pengukuran variabel sulit dihindarkan dari kemungkinan
terjadinya kesalahan (error).
Beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi hasil dapat dikontrol, sementara yang lain tidak. Berikut ini kemungkinan-kemungkinan sumber-sumber kesalahan
dalam pengukuran variabel (Brockopp dan Tolsma,
2000 : 171 – 172).
1. Kejelasan perintah yang ada dalam instrumen.
2. Variasi-variasi dalam administrasi.
3. Variasi-variasi situasi.
4. Respons menyebabkan bias.
5. Faktor-faktor pribadi yang sementara.
6. Sampling respons.
BAB
V
PENUTUP
A. Urgensi Desain Penelitian
Dalam melakukan
penelitian, terlebih lagi untuk penelitian kuantitatif,
salah satu langkah yang penting ialah membuat desain penelitian.
Desain penelitian pada hakikatnya merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian
yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada
seluruh proses penelitian (Nursalam,
2003 : 81). Hal senada juga dinyatakan oleh Sarwono. Menurut Sarwono (2006) desain penelitian bagaikan
sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian
secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan,
tanpa desain yang benar seorang
peneliti tidak akan dapat
melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak
mempunyai
pedoman arah yang jelas.
Sukardi, membahas desain penelitian berdasarkan definisi secara luas dan
sempit. Secara luas, desain penelitian
adalah semua proses yang diperlukan
dalam perencanaan dan pelaksanaan
penelitian. Dalam konteks ini komponen
desain dapat mencakup semua struktur penelitian
yang diawali sejak
ditemukannya ide sampai diperoleh
hasil
penelitian (Sukardi, 2004
:
183). Sedang
dalam arti sempit, desain penelitian
merupakan penggambaran
secara jelas tentang hubungan antara variabel, pengumpulan
data,
dan analisis data, sehingga
dengan desain yang baik peneliti maupun orang lain yang
berkepentingan mempunyai gambaran tentang bagaimana keterkaitan antar variabel, bagaimana mengukurnya, dst. (Sukardi, 2004 : 184).
B. Desain Penelitian yang Tepat
Kualitas penelitian dan ketepatan
penelitian antara lain ditentukan oleh desian penelitian
yang
dipakai.
Oleh
karena itu desain yang dipergunakan dalam penelitian harus desain yang tepat. Suatu desain penelitian dapat dikatakan berkualitas atau memiliki ketepatan
jika memenuhi dua syarat (Machfoedz, 2007: 101-102) ., yaitu : 1. dapat dipakai untuk menguji hipotesis
(khusus untuk penelitian kuantitatif analitik) dan 2. dapat mengendalikan atau
mengontrol varians.
C. Pemilihan Desain Penelitian
Ada bermacam-macam desain penelitian. Dalam memilih desain mana yang paling tepat, ada beberapa pertanyaan
yang perlu dijawab dan jawaban-
jawaban tersebut merupakan acuan dalam menentukan
desain penelitian. Burns
dan Grovers (Nursalam,
2003: 80) telah mengidentifikasi seperangkat pertanyaan berkenaan
dengan pemilihan
desain peleitian, yaitu :
1. Apakah tujuan utama penelitian untuk menjelaskan variable dan kelompok berdasarkan situasi penelitian,
menguji suatu hubungan, atau
menguji sebab akibat pada situasi
tertentu?
2. Apakah suatu perlakuan (treatment) akan digunakan?
3. Jika ya, apakah treatment akan dikontrol oleh peneliti?
4. Apakah sampel akan dikenai pretest sebelum treatment?
5. Apakah sampel akan diseleksi
secara random?
6. Apakah sampel akan diteliti sebagai satu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok?
7. Berapa besarnya kelompok yang akan diteliti?
8. Berapa jumlah masing-masing kelompok?
9. Apakah setiap kelompok akan diberikan tanda secara
random?
10. Apakah pengukuran variabelnya akan diulang?
11. Apakah
menggunakan pengumpulan data
corss-sectional atau cross time?
12. Apakah variable sudah diidentifikasi?
3. Apakah data yang sedang dikumpulkan memiliki banyak variable?
14. Strategi apa yang dipakai untuk mengontrol variable yang bervariasi?
15. Strategi apa yang digunakan untuk membandingkan suatu variable atau
kelompok?
16. Apakah suatu variabel akan dikumpulkan
secara singkat atau multipel?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
perlu dijawab secara cermat agar
tidak
terjadi kesalahan dalam menentukan
penelitian. Prosedur pemilihan desain
penelitian disajikan dalam bentuk bagan oleh Nursalam (2003:
81) sebagai berikut.
D. Tipe-Tipe Desain Penelitian
Secara garis besar ada dua macam
tipe desain, yaitu: Desain Non- ekperimental dan Desain Eskperimental. Faktor-faktor yang
membedakan kedua desain ini ialah pada desain pertama tidak terjadi manipulasi variabel bebas sedang pada desain yang kedua terdapat adanya manipulasi
variabel bebas. Tujuan utama penggunaan desain yang pertama ialah bersifat eksplorasi dan deskriptif; sedang desain kedua bersifat eksplanatori (sebab akibat). Jika dilihat
dari sisi
tingkat pemahaman permasalahan yang
diteliti, maka desain non- eksperimental menghasilkan
tingkat pemahaman persoalan
yang dikaji
pada tataran permukaan sedang desain eksperimental dapat menghasilkan tingkat
pemahaman yang lebih mendalam.
Kedua desain utama tersebut mempunyai sub-sub
desain yang lebih
khusus. Yang
termasuk dalam kategori pertama desain
penelitian deskriptif,
desain penelitian korelasional, Sedang
yang termasuk dalam kategori kedua ialah percobaan
di lapangan (field experiment) dan percobaan di laboratorium (laboratory experiment)
1. Desain Penelitian Non-eksperimen
a. Desain Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptIf dilakukan
dengan tujuan untuk mendiskripsikan atau menggambarakan fakta-fakta mengenai populasi secara sistematis, dan akurat. Dalam penelitian deskriptif fakta-fakta hasil penelitian disajikan apa adanya. Hasil penelitian deskriptif sering digunakan, atau dilanjutkan dengan
dilakukannya
penelitian analitik. Desain penelitian deskriptif dibedakan menjadi
dua :
desain penelitian studi kasus dan desain penelitian survai
(Nursalam, 2003: 83-84).
1)
Desain penelitian studi kasus
Studi kasus merupakan rancangan penelitian
yang mencakup pengkajian satu unit penelitian
secara intensif, misalnya satu
pasien, keluarga, kelompok, komunitas,
atau institusi (Nursalam, 2003
:
83). Karakteristik studi
kasus
adalah subjek
yang diteliti sedikit tetapi aspek-aspek yang diteliti banyak.
2)
Desain penelitian survai
Survai adalah suatu desain penelitian yang digunakan untuk menyediakan informasi
yang berhubungan
dengan
2) Desain
penelitian kasus kontrol
Desain penelitian kasus kontrol merupakan kebalikan dari desain penelitian kohort, dimana peneliti melakukan pengukuran pada variabel terikat terlebih
dahulu. Sedangkan
variabel bebas dteliti secara retrospektif untuk menentukan
ada tidaknya pengaruh pada variabel terikat.
Desain penelitian kasus kontrol
secara skematis dapat digambarkan sebagai
berikut.
d.
Desain Penelitian Tindakan
Penelitian tindakan
atau action research merupakan penelitian yang bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau
cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan
penerapan langsung di dunia kerja
atau
dunia
actual
yang
lain (Sumadi Suryabrata, 2000 : 35).
Penelitian tindakan mempunyai
ciri-ciri : 1) praktis dan langsung
relevan untuk situasi actual dalam dunia kerja, 2) menyediakan kerangka kerja yang teratur
untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan
baru, 3) fleksibel dan adaptatif, dan 4) memiliki kekurangan dalam hal ketertiban ilmiha
(Sumadi
Suryabrata, 2000 : 35).
Secara skematis desain penelitian
tindakan dapat divisualisasikan sebagai
berikut.
KONDISI
PRA PENELITIAN INTERVENSI
KONDISI PASCA PENELITIAN

Bagan
8 : DESAIN PENELITIAN TINDAKAN
4. Desain Penelitian Eksperimen
a.
Sistem notasi
Sebelum membicarakan desain
dan eksperimental, sistem notasi
yang digunakan perlu diketahui terlebih dahulu. Sistem notasi
tersebut adalah sebagai berikut (Sarwono, 2006) :
X :
Digunakan untuk
mewakili pemaparan
(exposure) suatu kelompok yang diuji terhadap
suatu perlakuan ekspe- rimental pada variabel bebas yang kemudian efek pada
variable tergantungnya akan diukur.
O :
Menunjukkan adanya suatu pengukuran atau observasi
terhadap variable tergantung yang sedang diteliti pada individu, kelompok atau obyek tertentu.
R :
menunjukkan bahwa individu
atau kelompok telah dipilih
dan ditentukan secara random..
b. Jenis-jenis desain ekperimental
Ditinjau berdasarkan tingkat pengendalian variable, desain penelitian eksperimental
dapat dibedakan menjadi 3, yaitu : a. Desain penelitian pra-eksperimental, b.
desaian penelitian eksperimental semu, dan c. desain penelitian
eksperimental sungguhan (Nursalam, 2003 : 87).
1) Desain
penelitian pra-eksperimental
Desain penelitian pra-eksperimental ada tiga jenis yaitu 1)
one-shot case study, 2) one-group pre-post tes design, dn 3) static
group design (Suryabrata, 2000 : 55; Nursalam, 2003 :
87).
a) One-shot case study
Prosedur desain penelitian
one-shot
case study adalah sebagai berikut. Sekolompok subjek dikenai perlakuan
tertentu (sebagai variable bebas)
kemudian dilakukan
pengukuran terhadap variable bebas. Desain
penelitian ini
secara visual dapat digambarkan
sebagai
|
SUBJEK
|
PRA
|
PERLAKUAN
|
PASCA
|
|
1 KELOMPOK
|
-
|
X
|
O
|
Gambar 4 : DESAIN PENELITIAN
ONE-SHOT CASE STUDY
b) One group pretest-posttes design
Prosedur desain penelitian
ini
adalah : a) dilakukan pengukuran variable tergantung dari satu kelompok
subjek (pretest), b) subjek diberi perlakuan
untuk jangka waktu tertentu (exposure), c) dilakukan pengukuran ke-2
(posttest) terhadap variable bebas, dan
d)
hasil
pengukuran prestest
dibandingan dengan
hasil
pengukuran posttes.
Prosedur
one group pretest-posttes design
dapat
digambarkan sebagai berikut.
|
SUBJEK
|
PRA
|
PERLAKUAN
|
PASCA
|
|
1 KELOMPOK
|
O
|
X
|
O
|
Gambar 5 : DESAIN PENELITIAN ONE GROUP PRETEST- POSTTES
c) Static
Group Comparison
Desain ketiga adalah
static group comparison yang
merupakan modifikasi dari desain b. Dalam desain ini
terdapat dua kelompok yang dipilih sebagai obj
ek penelitian. Kelompok pertama mendapatkan perlakuan
sedang kelompok kedua tidak mendapat perlakuan.
Kelompok kedua ini berfungsi sebagai
kelompok pembanding / pengontrol. Desainnya adalah sebagai
berikut:
|
SUBJEK
|
PRA
|
PERLAKUAN
|
PASCA
|
|
KEL. EKSPERIMEN
KEL. KONTROL
|
O
-
|
X
-
|
O
O
|
Gambar 6 : DESAIN
“STATIC GROUP COMPARISON”
2) Desain penelitian eksperimen semu (quasy-experiment)
Desain penelitian eksperimen
semu
berupaya mengungkap
hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol dan kelompok ekperimen
tetapi pemilihan kedua
kelompok tersebut tidak dilakukan secara acak (Nursalam,
2003 : 89). Kedua
kelompok
tersebut ada secara
alami.
Desain penelitian jenis ini
dapat digambarkan
sebagai
berikut.
|
SUBJEK
|
PRA
|
PERLAKUAN
|
PASCA
|
|
KEL. EKSPERIMEN KEL. KONTROL
|
O O
|
X
-
|
O O
|
Daftar Pustaka
Ary, Jacobs, dan Razavieh. (2000)
Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. (Alih Bahasa : Arief
Furchan). Surabaya : Usaha Nasional.
Brokopp, Dorothy Young dan Tlsma, Marie T.H. (2000)
Dasar-dasar Riset Keperawatan. (Alih Bahasa : Yasmin Asih dan Aniek Maryuni)
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Dempsey, Patricia Ann dan Dempsey, Arthur D. (2002)
Riset Keperawatan : Buku Ajar dan Latihan (Alih Bahasa : Palupi Widyastuti). Jakarta : Penerbit
Buku Kedokteran EGC.
Djarwanto. (1994)
Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan
Skripsi. Yogyakarta
: Liberty.
Johnson, R. Burke. (2005)
“Educatioal Research : Quantitative
and Qualitative” Internet : www.south.edu/coe/bset/johnson .
Machfoedz, Ircham. (2007) Metodologi Penelitian: Bidang Kesehatan, Keperawatan, dan Kebidanan.
Yogyakarta: Fitramaya.
Mohammad Nazir. (1998) Metode Penelitian.
Jakarta : Ghalia Indonesia. Moleong, J. Lexi. (2002) Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Karya.
jsarwono.
Sudarwan Danim dan Darwis (2003)
Metode Penelitian
Kebidanan : Prosedur,
Kebijakan, dan Etik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Suharsimi Arikunto (2002)
Prosedur Penelitian
: Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : Rineka Cipta.
Sudjana, Nana dan Ibrahim.
(2001) Penelitian dan
Penilaian
Pendidikan.
Bandung : Sinar Baru Algensindo.
Sukardi. (2004) Metodologi Penelitian
Pendidikan :
Kompetensi
dan
Praktiknya. Jakarta : Bumi Aksara.
Sumadi Suryabrata (2000)
Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.
Trochim,
William, M.K. (2005) “Research Methods
Knowledge Base.”
Internet: www.socialresearchmethods.net.