Chrome Pointer

Blog Posts

Selasa, 27 Oktober 2015

Metode Penelitian_SEMUA BAB

BAB I
LATAR BELAKANG

A.  Upaya-upaya Manusia untuk Memperoleh Kebenaran

1. Curiousity is Beginning of Knowledge
Pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science) berawal dari kekaguman manusia akan alam yang dihadapinya, baik alam besar (macro cosmos) maupun alam kecil (micro cosmos) Kekaguman tersebut kemudian menyebabkan timbulnya rasa ingin tahu (curiousity). Rasa ingin tahu manusia akan terpuaskan bila dirinya mendapatkan penjelasan menge nai apa yang dipertanyakan.
Untuk itu manusia menempuh berbagai upaya agar memperoleh pengetahuan yang benar (kebenaran), yang secara garis besar dibedakan menjadi  dua  :  secara  tradisional  (pendekatan  non  ilmiah)  dan  secara modern (pendekatan ilmiah).

2. Pendekatan Non ilmiah
Upaya untuk memperoleh pengetahuan atau memahami fenomena- fenomena tertentu ada yang dilakukan secara tradisional atau non ilmiah. Upaya ini muncul di masyarakat secara alami seiring dengan munculnya berbagai fenomena atau masalah yang membutuhkan penjelasan. Ada beberapa pendekatan non-ilmiah yang banyak dipakai untuk memperoleh pengetahuan atau kebenaran (Suryabrata, 2000: 3; Ary, Jacobs, dan Razavieh, 2000: 20)   yaitu : a. akal sehat, b. prasangka, c. intuisi, d.penemuan kebetulan dan coba-coba (tral and error), e. pendapat otoritas dan pikiran kritis , serta f. pengalaman (Sumadi Suryabrata, 2000 : 3).


3. Pendekatan Ilmiah (modern)
Dengan pendekatan ilmiah manusia berusaha memperoleh kebenaran ilmiah, yaitu kebenaran yang dapat dipertanggung jawaban secara rasional dan  empiris.  Kebenaran  semacam  ini  dapat  diperoleh  dengan  metoda ilmiah  (scientific method).  Metoda ilmiah dapat dibedakan menjadi dua macam (Johnson, 2005) , yaitu :


a.  Deductive method involved the following three steps :
1) State the hypothesis (based on theory or research literature);
2) Collect data to test hypothesis;
3) Make decision to accept or reject the hypothesis.


b.  Inductive method. This approach also involves three steps:
1) Observe the world;
2) Search for a pattern in what is observed;
3) Make a generalization about what is occuring.


Kedua metoda tersebu selanjutnya oleh Johnson divisualisasikan sebagai berikut.



B. Pengertian Penelitian
1 Tinjauan secara Etimologis
Secara etimologis, istilah research berasal dari dua kata, yaitu re dan search. Re berarti kembali atau berulang-ulang dan search berarti mencari, menjelajahi, atau menemukan makna. Dengan demikian penelitian atau research berarti  mencari, menjelajahi atau  menemukan makna kembali secara berulang-ulang (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 29).




2.    Menurut Ary, Jacobs, dan Razafieh (1992 : 44)
    Penelitian   dapat   dirumuskan   sebagai   pendekatan   ilmiah   pada pengkajian masalah.
    Penelitian merupakan usaha sistematis dan objektif untuk mencari pengetahuan yang dapat dipercaya.


3.  Menurut Ostle (Moh. Nazir, 1997 : 15)
    Penelitian  dengan  mengunakan  metoda  ilmiah  (scientific  method)
disebut penelitian ilmiah (scientific research).
    Dalam penelitian ilmiah selalu ditemukan 2 unsur penting, yaitu unsur
observasi (empiris) dan nalar (rasional).


Dari  beberapa  pendapat  tersebut  dapat  disimpulkan  bahwa  penelitian ilmiah merupakan suatu proses yang dilakukan secara sistematis dan objektif yang melibatkan unsur penalaran dan observasi untuk    menemukan, memferivikasi, dan memperkuat teori serta untuk memecahkan masalah yang muncul dalam kehidupan.


C. Tujuan Penelitian
Ada  tujuan  tertentu  yang  akan  dicapai  melalui penelitian. Berdasarkan kesimpulan tentang pengertian penelitian sebagaimana dikemukakan di atas dapat diidentifikasi tujuan penelitian, yaitu sebagai berikut.
1. Untuk memperoleh data empiris yang dapat digunakan dalam merumuskan, memperluas, dan memverifikasi teori. Tujuan penelitian seperti ini dimiliki oleh ilmu-ilmu murni (pure science)
2.  Untuk memecahkan persoalan yang ada dalam kehidupan. Tujuan penelitian semacam ini terdapat pada ilmu-ilm terapan (applied sciences)


D. Ragam Penelitian
Penelitian dapat diklasifikasikan menjadi bermacam-macam. Klasifikasi tersebut dapat dilakukan berdasarkan beberapa tinjauan yaitu : bidang ilmu, pendekatan, tempat pelaksanaan, pemakaian, tujuan umum, taraf, metoda, dan ada tidaknya intervensi terhadap variabel.


1. Klasifikasi Penelitian berdasarkan Bidang Ilmu
Ada bermacam-macam bidang ilmu dan jika penelitian dilakukan untuk bidang ilmu tertentu maka ragam penelitian yang dilakukan disebut sesuai dengan bidang ilmu tersebut. Dengan demikian ditinjau berdasarkan bidang-bidang ilmu yang ada penelitian dapat dibedakan menjadi : a.     penelitian  pendidikan,  b.   penelitian  kedokteran,  c. penelitian keperawatan, d. penelitian kebidanan, e. penelitian ekonomi, f. penelitian pertanian, g. penelitian biologi, h. penelitian sejarah, dst.


2. Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Pendekatan yang Dipakai
Berdasarkan pendekatan yang dipakai, penelitian dapat dibedakan menjadi penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Masing-masing pendekatan tersebut memiliki paradigma, asumsi, karakteristik sendiri- sendiri.  Kedua  pendekatan penelitian tersebut dapat dilakukan dengan cara simultan dan saling mengisi sesuai dengan kebutuhan, sehingga dapat diwujudkan proses penelitian yang komprehensif.


3.  Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tempat Pelaksanaannya :
Penelitian     dapat     dilakukan     diberbagai          tempat,     yaitu diperpustakaan, lapangan, laboratorium atau  gabungan dari  tempat- tempat  tersebut.  Atas  dasar  tinjauan  tersebut  penelitian  dibedakan menjadi : a.    penelitian     perpustakaan     (library     research),     b. penelitian  laborartorium    (laboratory  research),  dan  c.  penelitian
lapangan (field research)


4.  Klasfikasi Penelitian Ditinjau berdasarkan Pemakaiannya
Hasil penelitian dapat dipakai untuk mengembangkan dan memverifikasi terori serta memecahkan masalah. Atas dasar tinjauan ini penelitian dapat dibedakan menjadi :
a. Penelitian penelitian murni (pure research atau basic research) Penelitian  murni  atau  penelitian  dasar  merupakan  penelitian yang dilakukan dengan maksud hasil penelitian tersebut dipakai untuk mengembangkan dan memverifikasi teori-teori ilmiah.
b. Penelitian terapan (applied research).
Penelitian  terapan  adalah  ragam  penelitian  dimana  hasilnya diterapkan berkenaan dengan upaya pemecahan masalah .



5.  Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tujuan Umumnya
Berdasarkan tujuan umumnya, penelitian dibedakan menjadi : penelitian eksploratif, penelitian pengembangan, dan penelitian verifikatif.
a. Penelitian eksploratif,  adalah penelitian yang dilakukan dengan tujuan  untuk  mengekplorasi fenomena  yang  menjadi  sasaran penelitian.
a. Penelitian    pengembangan  (developmental  research),  adalah penelitian yang dilakukan untuk mengembangan suatu konsep atau prosedur tertentu.
b. Penelitian  verifikatif,  merupakan  penelitian  yang  dilakukan dengan tujuan  membuktikan kebenaran suatu teori pada waktu dan tempat tertentu.


6.  Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Tarafnya
Penelitian ditinjau berdasarkan tarafnya dibedakan menjadi dua, yaitu penelitian deskriptif dan penelitian analitik. Penelitian deskriptif merupakan penelitian pada taraf mendiskripsikan variable yang diteliti tanpa dilakukan analisis dalam keterkaitannya dengan variable lainnya. Sedangkan jika penelitian dilakukan bukan sekadar mendiskripsikan variable  penelitian  tetapi  dilakukan  analisis  dalam  hubungannya dengan variable-variabel lainnya disebut penelitian analitik.


7.  Klasifikasi Penelitian Berdasarkan Metode
Berdasarkan metode yang dipakai, penelitian dibedakan menjadi penelitian longitudinal dan penelitian cross-sectional. Penelitian longitudinal (longitudinal research) adalah penelitian yang dilakukan dengan metode longitudinal (longituninal method), yaitu metode penelitian  yang  membutuhkan  waktu  yang  lama,  berbulan-bulan bahkan bertahun, secara berkesinambungan. Sedangkan penelitian cross-sectional (cross-sectional research) merupakan penelitian yang dilakukan dengan metode cross-sectional (cross-sectional method), yaitu metode penelitian yang dilakukan dengan mengambil waktu tertentu yang relative pendek dan tempat tertentu.



8.  Klasifikasi    Penelitian    Berdasarka Intervensi    terhadap
Variabel
Penelitian dapat dilakukan di mana peneliti melakukan intervensi atau perlakuan terhadap variable tertentu. Jika tindakan tersebut dilakukan maka penelitian semacam itu tergolong penelitian eksperimen.  Sebaliknya  jika   tidak  dilakukan  intervensi  terhadap variabel maka penelitian tersebut tergolong penelitian eksperimen.


E. Unsur-unsur Penelitian
Penelitian merupakan sistem berpikir dan bertindak, artinya ada berbagai faktor dan tindakan yang harus dipikirkan dan dilakukan sehingga tujuan bisa tercapai. Sebagai suatu sistem, penelitian terdiri dari berbagai unsur yang saling berhubungan secara fungsional.   Sebagai suatu sistem, penelitian memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1.  permasalahan
2.  teori dan konsep-konsep ilmiah
3.  variabel
4.  hipotesis (fakultatif)
5.  populasi, sampel, dan teknik sampling
6.  data
7.  instrumen pengumpul data
8.  teknik analisis data




BAB II


TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Kuantitatif
1. Definisi Penelitian Kuantitatif
Kasiram (2008: 149) dalam bukunya Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif, mendifinisikan penelitian kuantitatif adalah suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui.


2. Asumsi Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif   didasarkan pada asumsi sebagai berikut (Nana
Sudjana dan Ibrahim, 2001; Del Siegle, 2005, dan Johnson, 2005).
a. Bahwa realitas yang menjadi sasaran penelitian berdimensi tunggal, fragmental, dan cenderung bersifat tetap sehingga dapat diprediksi.
b. Variabel dapat diidentifikasi dan diukur dengan alat-alat yang objektif dan baku.


3. Karakeristik Penelitian Kuantitatif
Karakteristik penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut (Nana Sudjana dan Ibrahim, 2001 : 6-7; Suharsimi Arikunto, 2002 : 11; Johnson, 2005; dan Kasiram 2008: 149-150) :
a.  Menggunakan pola berpikir deduktif (rasional empiris atau top- down), yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara menggunakan konsep-konsep yang umum untuk menjelaskan fenomena-fenomena yang bersifat khusus.
b.  Logika yang dipakai adalah logika positivistik dan menghundari hal- hal yang bersifat subjektif.
c.  Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
d. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyususun ilmu nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hokum-hukum dari generalisasinya.


e.  Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang dibutuhkan, serta alat pengumpul data yang dipakai sesuai dengan apa yang telah direncanakan sebelumnya.
f Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran dengan mengguna- kan alat yang objektif dan baku.
g.  Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian, dalam arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek penelitian.
h.  Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
i.   Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks waktu dan situasi.


3.  Prosedur Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif pelaksanaannya berdasarkan prosedur yang telah direncanakan sebelumnya. Adapun prosedur penelitian kuantitatif terdiri dari tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut.
a.  Identifikasi permasalahan b.  Studi literatur.
c.  Pengembangan kerangka konsep
d.  Identifikasi dan definisi variabel, hipotesis, dan pertanyaan penelitian. e.  Pengembangan disain penelitian.
f Teknik sampling.
g.  Pengumpulan dan kuantifikasi data. h.  Analisis data.
i.   Interpretasi dan komunikasi hasil penelitian.


4. Tipe-tipe Penelitian Kuantitatif
Dalam melakukan penelitian, peneliti dapat menggunakan metoda dan rancangan (design) tertentu dengan mempertimbangkan   tujuan penelitian dan sifat masalah yang dihadapi.  Berdasarkan sifat-sifat permasalahannya, penelitian kuantitatif dapat dibedakan menjadi beberapa tipe sebagai berikut (Suryabrata, 2000 : 15 dan Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 69 78).
a.  Penelitian deskriptif
b.  Penelitian korelational
c.  Penelitian kausal komparatif d.  Penelitian tindakan
e.  Penelitian perkembangan


f Penelitian eksperimen


5. Metode Penelitian Kuantitatif
Metode yang dipergunakan dalam penelitian kuantitatif, khusunya kuantitatif analitik adalah metode dedutif. Dalam metoda ini teori ilmiah yang telah diterima kebenarannya dijadikan acuan dalam mencari kebenaran selanjutnya.
Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Ilmu dalam Perspektif Moral, Sosial,  dan  Politik  (2000:  6)  menyatakan bahwa  pada  dasarnya  metoda ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan : a) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan  argumentasi  yang  bersifat  konsisten  dengan  pengetahuan sebelumnya  yang  telah  berhasil disusun;  b)  menjabarkan hipotesis  yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut;   dan c) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataannya secara faktual.
Selanjutnya Jujun  menyatakan bahwa kerangka berpikir ilmiah  yang berintikan proses logico-hypothetico-verifikatif ini pada dasarnya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut (Suriasumantri, 2005 : 127-128).
a) Perumusan  masalah,  yang  merupakan  pertanyaan  mengenai  objek empiris yang jelas batas-batasnya serta dapat diidentifikasikan faktor- faktor yang terkait di dalamnya.
b) Penyusunan  kerangka  berpikir  dalam  penyusunan  hipotesis  yang merupakan argumentasi yang menjelaskan hubungan yang mungkin terdapat antara berbagai faktor yang saling mengait dan  membentuk konstelasi   permasalahan.  Kerangka   berpikir   ini   disusu secara rasional berdasarkan premis-premis ilmiah yang telah teruji kebenarannya dengan memperhatikan faktor-faktor empiris yang relevan dengan permasalahan.
c) Perumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara atau dugaan terhadap pertanyaan yang diajukan yang materinya merupakan kesimpulan dari dari kerangka berpikir yang dikembangkan.
d) Pengujian hipotesis yang merupakan pengumpulan fakta-fakta yang relevan  dengan  hipotesis,  yang  diajukan  untuk  memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipoteisis tersebut atau tidak.


e) Penarikan kesimpulan  yang  merupakan penilaian apakah hipotesis yang diajukan itu ditolak atau diterima.


Langkah-langkah atau prosedur penelitian tersebut kemudian oleh Jujun
S. Suriasumantri divisualisasikan dalam bentuk bagan sebagai berikut




B. Penelitian Kualitatif
1. Definisi Penelitian Kualitatif
Moleong   setelah   melakukan   analisis   terhadap   beberapa   definisi penelitian kualitatif kemudian membuat definisi sendiri sebagai sisntesis dari pokok-pokok pengertian penelitian kualitatif.  Menurut Moleong (2005: 6) penelitian kualitatif adalah  penelitian  yang  bermaksud untuk  memahami fenomena  tentang  apa  yang  dialami  oleh  subjek  penelitian  misalnya perilaku, persepsi, motivasi , tindakan, dll. secara holistic, dan dengan cara


deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dahn dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.


2. Asumsi Penelitian Kualitatif
Anggapan yang mendasari penelitian kualitatif adalah bahwa kenyataan sebagai suatu yang berdimensi jamak, kesatuan, dan berubah-ubah (Nana Sudjana  dan  Ibrahim,  2001  :  7).  Oleh  karena  itu  tidak  mungkin  dapat disusun rancangan penelitian yang terinci dan fixed sebelumnya. Rancangan penelitian berkembangan selama proses penelitian.


2. Karakteristik Penelitian Kualitaif
Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik, metode fenomenologis, metode impresionistik, dan metode post positivistic. Adapun karakteristik penelitian jenis ini adalah sebagai berikut (Sujana dan Ibrahim,
2001  :  6-7;  Suharsimi Arikunto, 2002:  11-12;      Moleong,  2005:  8-11; Johnson, 2005, dan Kasiram, 2008: 154-155).
a.  Menggunakan pola berpikir induktif (empiris rasional atau bottom- up).
Metode kualitatif sering  digunakan untuk  menghasilkan grounded theory, yaitu teori yang timbul dari data bukan dari hipotesis seperti dalam metode kuantitatif. Atas dasar itu penelitian bersifat generating theory, sehingga teori yang dihasilkan berupa teori substansif.
b.  Perspektif  emic/partisipan  sangat  iutamakan  dan  dihargai  tinggi.
Minat peneliti banyak tercurah pada bagaimana persepsi dan makna menurut sudut pandang partisipan yang diteliti, sehingga bias menemukan apa yang disebut sebagai fakta fenomenologis.
c.  Penelitian kualitatif tidak menggunakan rancangan penelitian yang baku. Rancangan pene-litian berkembang selama proses penelitian.
d.  Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami,  mencari makna di balik data, untuk menemukan kebenaran, baik kebenaran empiris sensual, empiris logis, dan empiris logis.
e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, sumber data yang dibutuhkan,  dan  alat  pengumpul  data  bisa  berubah-ubah  sesuai dengan kebutuhan.
f.   Pengumpulan   data   dilakukan   ata dasar prinsip fenomenologis, yaitu dengan memahami secara mendalam gejala atau fenomena yang dihadapi.


g. Peneliti berfungsi pula sebagai alat pengumpul data sehingga keberadaanya tidak  terpisahkan dengan apa yang diteliti.
h.  Analisis data  dapat dilakukan selama penelitian sedang dan  telah berlangsung.
i.   Hasil  penelitian  berupa  deskripsi  dan  interpretasi  dalam  konteks waktu serta   situasi tertentu.


3. Prosedur Penelitian Kualitatif
Prosedur  pelaksanaan  penelitian  kualitatif  bersifat  fleksibel  sesuai dengan kebutuhan, serta situasi dan kondisi di lapangan. Secara garis besar tahapan penelitian kualitatif adalah sebagai berikut  (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 80)
a.  Merumuskan masalah sebagai fokus penelitian. b.  Mengumpulkan data di lapangan.
c.  Menganalisis data.
d.  Merumuskan hasil studi.
e.  Menyusun rekomendasi untuk pembuatan keputusan.


4. Tipe-tipe Kualitatif
Penelitian dengan pendekatan kualitatif dapat dibedakan menjadi lima tipe utama, yaiu : phenomenology, ethnography, case study research, grounded theory, dan historical research (Johnson, 2005 : 8)
a. Phenomenology  a form of qualitative research in which the researcher attempts to understand how one or more individuals experience a phenemenon.
b.  Ethnography :   is the form of qualitative research that focuses on describing the culture of a group of people.
c.  Case study research :  is a form of qualitative research that focused on providing a detailed account of one or more cases.
d. Grounded theory : is a qualitative approach to generating and developing a theory form data that the researcher collects.
e. Historical research : research about events that occurred in the pasti






BAB III

METODOLOGI PENULISAN



Penelitian dapat dipandang sebagai sistem berpikir dan bertindak yang diarahkan pada pencapaian tujuan.  Sebagai  suatu sistem, penelitian memiliki berbagai komponen yang saling berhubungan sebagai suatu kesatuan. Komponen-komponen penelitian adalah sebagai berikut.


A. Permasalahan
1. Hakikat Permasalahan
Masalah atau problem dapat diartikan sebagai jarak antara apa yang diharapkan (das Sollen) dengan apa yang terwujud atau tercapai (das Sein). Masalah menunjukkan adanya ketidak sesuaian antara apa yang
diinginkan dengan apa yang terwujud atau tercapai.

2. Sumber  Masalah Penelitian
Sumber masalah penelitian menurut Turney dan Noble (Sudarwan
Danim dan Darwis, 2003 : 93-97) adalah sebagai berikut :
a.  Pengalaman pribadi.
Pengalaman pribadi dapat berupa pengalaman masa lampau dan kekinian. Upaya mewujudkan pengalaman pribadi menjadi permasalahan penelitian dapat dilakukan dengan :
1) Mengidentifikasi pengalaman pribadi untuk fokus penelitian.


2) Mengidentifikasi sebab-sebab munculnya masalah tersebut.
3) Membuat   keputusan   pribadi   selaku   calo peneliti   untuk memecahkan masalah tersebut.
4) Merumuskan masalah penelitian.


b.   Informasi yang diperoleh secara kebetulan.
Di mana pun, dari mana pun, dan kapan pun calon peneliti berpeluang  memperoleh informasi  penting  dan  menarik  untuk dijadikan topik penelitian. Berdasarkan informasi yang diperoleh secara kebetulan , calon peneliti dapat merumuskan masalah penelitian dengan latar belakang dan tujuan, serta hasil akhir yang diharapkan.
Untuk mewujudkan informasi tersebut menjadi permasalahan penelitian, dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut.
1) Mengembangkan kepekaan selaku peneliti dalam merespons fenomena yang relevan.
2) Mendefinisikan keterangan yang diperoleh secara spesifik.
3) Mengidentifikasi penyebab munculnya masalah.
4) Membuat   keputusan   pribadi   selaku   calo peneliti   untuk memecahkan masalah tersebut.
5) Merumuskan masalah penelitian.


c.   Kerja dan kontrak profesional
Banyak peneliti mengembangkan atau merumuskan pertanyaan penelitian mereka sebagai bagian aktivitas pekerjaan atau diskusi dengan rekan sekerja. Pada banyak kasus, diskusi formal dan informal   yang   dilakukan   oleh   peneliti   dengan   rekan   atau kelompok ahli lain sangat membantu upaya penajaman terhadap masalah, baik teoritis maupun praktis (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 95).
Melalui diskusi akademik, masalah penelitian dipertajam dan dirumuskan. Untuk tujuan ini peneliti dapat menempuh langkah- langkah sebagai berikut.
1) Mendifinisikan masalah bersama rekan sekerja.
2) Mengidentifikasi penyebab munculnya masalah.
3) Membuat keputusan untuk mengadakan penelitian.
4) Merumuskan pertanyaan penelitian.



d.   Pengujian dan pengembangan teori
Tujuan penelitian antara lain adalah untuk melahirkan teori-teori baru dan merevisi teori yang telah ada yang ternyata sudah tidak relevan lagi dengan kenyataan sekarang. Langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh  peneliti berkenaan berkenaan dengan hal tersebut adalah :
1) Memahami teori-teori yang relevan dengan bidangnya.
2) Menelaah proses penelitian sehingga diperoleh teori tersebut.
3) Membuat keputusan untuk menyelenggarakan penelitian.
4) Menentukan waktu dan situasi penelitian yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.
5) Merumuskan masalah penelitian.


e    Analisis literatur professional dan hasil penelitian sebelumya.
Masalah penelitian banyak diperoleh melalui penelaahan terhadap literatur professional dan laporan atau jurnal hasil penelitian. Dari hasil analisis terhadap literatur, laporan, jurnal, tsb. peneliti memilih dan merumuskan masalah penelitiannya.


3.  Kriteria dalam PemilihanMmasalah
Tidak setiap masalah layak untuk diangkat sebagai topik penelitian. Untuk  memilih masalah mana yang layak untuk  diteliti, ada beberapa kriteria yg. dapat dipakai, yaitu sebagai berikut (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 91-92).


a.  Apakah  masalah  itu  sesuatu  yang  baru,  relatif  belum  banyak diteliti?
Untuk itu calon peneliti perlu menelaah beberapa hal, seperti :
1)   Isu-isu yang muncul kekinian.
2)   Isu-isu yang unik.
3)   Penelitian sejenis pada skala institusi.
4)   Penelitian sejenis pada skala wilayah.
5)   Penelitian sejenis pada skala nasional.
6)   Penelitian sejenis pada skala internasional.
7)   Penelitian sejenis menurut periode waktu.


b.  Apakah masalah itu  mengundang rasa ingin tahu peneliti atau pihak   luar   yang   akan   membaca   atau   memanfaatkan   hasil penelitian itu ?
Untuk itu peneliti perlu memperhatikan :
1)   Nilai teoritis hasil penelitian bagi dirinya dan juga pihak lain seprofesi.
2)   Nilai    teortis    hasil    penelitian    bagi    pengembangan    ilmu sebagaimana yang diteliti.
3)   Nilai   praktis   hasil   penelitian   bagi   diriny dan   juga   bagi profesinya.


c    Apakah masalah yang diplih berada dalam lingkup keilmuan yang ditekuni oleh peneliti selama ini ?


d    Adakah   alat,   bahan dan   metoda   kerja   yang   akan   dipakai memungkinkan terlaksananya pengkajian terhadap fakus masalah yang dipilih ?
Beberapa hal khusus yang perlu dipertimbangkan adalah :
1)   Ada atau tidaknya alat / bahan pendukung penelitian.
2)   Ketersediaan biaya penelitian.
3)   Fasilitas pendukung lainnya, seperti  keterbukaan sumber data, masalah perijinan dari instansi terkait.
4)   Metode penelitian yang dipakai menurut situasi dan karakteristik spesifik subjek penelitian.


e    Apakah      segi-segi      teknik      berikut      ini      memungkinkan terselenggaranya penelitian sesuai dengan fokus masalah ?
1)   Ketahanan fisik peneliti.
2)   Ketahanan psikologis peneliti.
3)   Kesediaan  peneliti  menyediakan  waktu  untuk  mengkaji  fokus penelitian secara memadai.
4)   Kapasitas peneliti dalam bekerja sama dengan pihak lain.


4.  Perumusan Masalah
Apabila permasalahan yang akan diteliti telah ditetapkan, langkah berikutnya  adalah  merumuskan  masalah.  Tuckman  (dalam  Sudarwan


Danim dan Darwis, 2003 : 99)  mengemukakan beberapa kirteria dalam merumuskan masalah, yaitu :
a.  Bersifat kausalitas atau menghubungkan dua variabel atau lebih. b.  Dapat diukur secara empiris dan objektif.
c.  Dinyatakan secara jelas dan tidak bermakna ganda, lebih baik dinyatakan dalam bentuk pertanyaan.
d.  Tidak mencerminkan ambisi pribadi atau masyarakat, dan tidak pula menuntut jawaban dengan pertimbangan moral subjektif.


B. Teori Ilmiah
1.  Pengertian Teori Ilmiah
a. Teori  ilmiah  adalah  suatu  himpunan  pengertian  (contruct  atau concept) yang saling berkaitan, batasan, serta proposisi yang menyajikan pandangan sistematis tentang gejala-gejala dengan jalan menetapkan hubungan yang ada di antara variable-variabel, dan dengan tujuan untuk menjelaskan serta meramalkan gejala-gejala tersebut (Ary, et al, 2000: 36).
b. Teori ilmiah adalah sebuah set proposisi yang terdiri dari konsep- konsep yang telah didefinisikan secara jelas.
c. Teori ilmiah adalah penjelasan mengenai hubungan antar konsep atau
variabel.
d. Teori ilmiah adalah penjelasan mengenai fenomena-fenomena dengan cara menspesifikasikan hubungan antar variabel.


2.  Kegunaan Teori Ilmiah dalam Penelitian
Pentingnya  teori  ilmiah  dalam  penelitian  dapat  disebutkan  sebagai berikut
a. Sebagai acuan dalam pengkajian suatu masalah.
b. Sebagai dasar dalam merumuskan kerangka teoritis penelitian. c. Sebagai dasar dalam merumuskan hipotesis.
d. Sebagai informasi untuk menetapkan cara pengujian hipotesis.
e. Untuk mendapatkan informasi historis dan perspektif permasalahan yang akan diteliti.
f.  Memperkaya ide-ide baru.
g. Untuk mengetahui siapa saja peneliti lain dan pengguna di bidang yang sama.


3.  Hubungan teori ilmiah dengan fakta.
Dalam  penelitian  ilmiah,  teori  ilmiah  tidak  terpisahkan  dari  fakta. Hubungan antara keduanya adalah :
a. Fakta memprakarsai teori ilmiah.
b. Fakta memformulasikan kembali teori-teori ilmiah.
c. Fakta dapat dijadikan dasar untuk menolak teori ilmiah. d. Fakta memperjelas teori ilmiah.


BAB IV
PEMBAHASAN DAN ANALISIS

A. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Salah satu kegiatan penelitian adalah pengumpulan data. Kegiatan pengum- pulan data dilakukan dengan teknik tertentu dan menggunakan alat tertentu yang sering disebut instrumen penelitian. Data yang diperoleh dari proses tersebut   kemudian dihimpun, ditata, dianalisis untuk menjadi informasi yang dapat menjelaskan suatu fenomena atau keterkaitan antara fenomena. Secara garis besar teknik pengumpulan data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu teknik tes dan nontes.


1. Teknik Tes
a.  Pengertian teknik tes
Teknik tes adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan  serentetan soal atau tugas serta alat lainnya kepada subjek yang diperlukan datanya.
Pengumpulan data dengan menggunakan teknik tes dapat disebut sebagai pengukuran  (measurement). Teknik  semacam  ini    banyak  digunakan dalam penelitian kuantitatif.
b.  Jenis-jenis instrumen untuk teknik tes
Ditinjau berdasarkan sasaran atau objek yang diukur, instrument untuk teknik tes dapat dibedakan menjadi sebagai berikut .
1)   Tes hasil belajar (achievement test)
2)   Tes kepribadian (personality test)
3)   Tes bakat (aptitude test)
4)   Tes inteligensi (intelligence test)
5)   Tes sikap (attitude test)
6)   Tes minat (interest test)


2. Teknik Nontes
Pengumpulan data penelitian dapat pula dilakukan dengan teknik non tes, yaitu dengan tidak memberikan soal-soal atau tugas-tugas kepada subjek yang diperlukan datanya.  Dalam teknik non tes, data dari subjek penelitian dikumpulkan dengan :
a.  wawancara;
b.  kuesioner;
c.  observasi;
d.  pencatatan dokumen.
Instrumen untuk teknik tersebut pada  penelitian kuantitatif    adalah : pedoman wawancara, kuesioner atau angket, pedoman observasi,   tabel- tabel, kolom-kolom, ataupun alat rekam elektronik yang dapat dipakai untuk menyimpan   data.   Sedangkan   pada   penelitian   kualitatif   di   samping instrument tersebut di atas peneliti juga merupakan instrumen.


B. Validitas dan Reliabilitas Instrumen
1. Validitas
a.  Pengertian validitas
Validitas mengacu pada kemampuan instrument pengumpulan data untuk mengukur apa yang harus diukur, untuk mendapatkan data yang relevan dengan apa yang sedang diukur (Dempsey dan Dempsey, 2002 :
79).  Dengan kata  lain  sebuah instrumen dianggap memiliki validitas yang  tinggi  jika  instrumen  tersebut  benar-benar  dapat  dijadikan  alat untuk  mengukur sesuatu secara  tepat.  Validitas merupakan ciri  yang harus dimiliki oleh instrument pengukuran karena berhubungan langsung dengan dapat tidaknya data dipercaya kebenarannya.


b.  Macam-macam validitas
1)  Validitas subjektif
Validitas subjektif merupakan jenis validitas yang kriterianya sepenuhnya ditentukan berdasarkan pertimbangan peneliti, baik pertimbangan nalar maupun pengalaman keilmuannya (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 250).


2)  Validitas isi
a)  Validitas isi menunjuk pada sejauh mana instrument tersebut mencerminkan isi yang dikehendaki (Donald Ary dkk., 1992 :
283).
b)   Vailiditas isi ialah derajat di mana sebuah instrument mengukur cakupan subsansi yanghendak diukur (Sukardi, 2004 : 123).


3)  Validitas criteria
Validitas   criteria   menunjuk   pada   hubungan   antara   skor   yang diperoleh dengan memakai instrument tertentu dengan suatu variable luar (sebagai kriteria) yang mandiri dan dipercaya dapat  mengukur langsung fenomena yang diselidiki (Donald Ary dkk., 1992 : 284)


4)  Validitas konstruk (construct validity)
1)   Contsruct validity atau validitas bangunan pengertian menunjuk kepada sejauh mana hasil pengukuran dapat ditafsirkan menurut bangunan pengertian tersebut (Donald Ary dkk., 1992 : 288).
2)   Validitas konstruk merupakan derajat yang menunjukkan bahwa suatu instrument dapat mengukur sebuah konstruk sementara atau hypothetical construct (Sukardi, 2004 : 2004).
3)  Construct validity dipilih bila fenomena tidak dapat diukur secara langsung sehingga pengukuran dilakukan terhadap indikator- indikator  atau  unsur-unsur  yang  membentuk  construct  atau konsep tersebut.


2. Reliabilitas
a.  Pengertian Reliablitas
Reliabilitas instrumen adalah tingkat konsistensi hasil yang dicapai oleh  sebuah alat  ukur,  meskipun dipakai secara  berulang-ulang pada subjek yang sama atau berbeda.   Dengan demikian suatu instrumen dikatakan reliabel bila mampu mengukur sesuatu dengan hasil yang konsisten (ajeg).


b.  Cara menentukan indeks reliabilitas
Ada beberapa cara untuk menentukan indeks reliabilitas instrumen, yaitu : metoda belah dua, metode tes ulang, metoda kesamaan rasional, dan metoda paralel (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 254).


1)  Metoda belah dua
Metoda belah dua dilakukan dengan jalan memilah satu instrument ke dalam dua bagian yang sama banyak, bagian pertama memuat unsure yang bernomor ganjil dan bagian lain untuk yang bernomor genap.
2)  Metoda tes ulang
Anggapan dasar metoda ini adalah suatu instrument memiliki reliabilitas yang tinggi bila dipergunakan pada subjek-subjek yang sama dengan waktu yang berbeda   namun hasilnya sama atau mendekati sama.
3)  Metoda kesamaan rasional
Metode ini dikembangkan oleh Kuder dan Richarson dengan titik tekan kesamaan semua butir pertanyaan yang ada pada instrument tes, baik pada ranah maupun tingkat kesukarannya. Artinya metoda ini hanya  dimaksudkan untuk  mengukur reliabilitas  yang  mempunyai satu sifat (Sudarwan Danim dan Darwis, 2003 : 256).
4)  Metoda paralel
Metoda paralel sering pula disebut reliabilitas bentuk setara (equivalent-form  reliability),  yang  mempunyai  dua  bentuk instrument. Metoda parallel dilakukan dengan dua kemungkinan. Pertama,  dua  orang  peneliti  menggunakan instrument  yang  sama untuk mengukur variabel yang sama dengan menggunakan responden dan waktu yang sama. Kedua, peneliti tunggal menggunakan instrumen yang berbeda untuk mengukur variabel yang sama dengan menggunakan responden dan waktu yang sama pula.


C. Beberapa Kesalahan dalam Pengukuran
Pengukuran variabel sulit dihindarkan dari kemungkinan terjadinya kesalahan  (error).  Beberapa  faktor  yang  dapat  mempengaruhi hasil  dapat dikontrol, sementara yang lain tidak. Berikut ini kemungkinan-kemungkinan sumber-sumber kesalahan dalam pengukuran variabel (Brockopp dan Tolsma,
2000 : 171 172).
1.     Kejelasan perintah yang ada dalam instrumen.
2.     Variasi-variasi dalam administrasi.
3.     Variasi-variasi situasi.
4.     Respons menyebabkan bias.
5.     Faktor-faktor pribadi yang sementara.
6.     Sampling respons.



BAB V
PENUTUP


A. Urgensi Desain Penelitian

Dalam melakukan penelitian, terlebih lagi untuk penelitian kuantitatif, salah satu langkah yang  penting ialah membuat desain penelitian. Desain penelitian pada hakikatnya merupakan suatu strategi untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan dan berperan sebagai pedoman atau penuntun peneliti pada seluruh proses penelitian (Nursalam, 2003 : 81). Hal senada juga dinyatakan oleh Sarwono. Menurut Sarwono (2006) desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak mempunyai pedoman arah yang jelas.
Sukardi, membahas desain penelitian berdasarkan definisi secara luas dan sempit. Secara luas, desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam konteks ini komponen desain dapat mencakup semua struktur penelitian yang diawali sejak ditemukannya ide  sampai  diperoleh  hasil  penelitian  (Sukardi, 2004  :  183). Sedang dalam arti sempit, desain penelitian merupakan penggambaran secara jelas tentang hubungan antara variabel, pengumpulan data, dan analisis data, sehingga dengan desain yang baik peneliti maupun orang lain yang berkepentingan mempunyai gambaran tentang bagaimana keterkaitan antar variabel, bagaimana mengukurnya, dst. (Sukardi, 2004 : 184).


B. Desain Penelitian yang Tepat

Kualitas penelitian dan ketepatan penelitian antara lain ditentukan oleh desian  penelitian  yang  dipakai.  Oleh  karena  itu  desain  yang  dipergunakan dalam penelitian harus desain yang tepat. Suatu desain penelitian dapat dikatakan berkualitas atau memiliki ketepatan jika memenuhi dua syarat (Machfoedz, 2007: 101-102) ., yaitu : 1. dapat dipakai untuk menguji hipotesis


(khusus untuk penelitian kuantitatif analitik) dan 2. dapat mengendalikan atau mengontrol varians.


C. Pemilihan Desain Penelitian
Ada  bermacam-macam desain  penelitian. Dalam memilih desaimana yang paling tepat, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dan jawaban- jawaban tersebut merupakan acuan dalam menentukan desain penelitian. Burns dan Grovers (Nursalam, 2003: 80) telah mengidentifikasi   seperangkat pertanyaan berkenaan dengan pemilihan desain peleitian, yaitu :
1. Apakah tujuan utama penelitian untuk menjelaskan variable dan kelompok berdasarkan situasi penelitian, menguji suatu hubungan, atau menguji sebab akibat pada situasi tertentu?
2.   Apakah suatu perlakuan (treatment) akan digunakan?
3.   Jika ya, apakah treatment akan dikontrol oleh peneliti?
4.   Apakah sampel akan dikenai pretest sebelum treatment?
5.   Apakah sampel akan diseleksi secara random?
6.   Apakah sampel akan diteliti sebagai satu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok?
7.   Berapa besarnya kelompok yang akan diteliti?
8.   Berapa jumlah masing-masing kelompok?
9.   Apakah setiap kelompok akan diberikan tanda secara random?
10.   Apakah pengukuran variabelnya akan diulang?
11.   Apakah menggunakan pengumpulan data  corss-sectional atau  cross time?
12.   Apakah variable sudah diidentifikasi?
3.   Apakah data yang sedang dikumpulkan memiliki banyak variable?
14.   Strategi apa yang dipakai untuk mengontrol variable yang bervariasi?
15.   Strategi apa yang digunakan untuk membandingkan suatu variable atau kelompok?
16.   Apakah suatu variabel akan dikumpulkan secara singkat atau multipel?


Pertanyaan-pertanyaan tersebut  perlu  dijawab  secara  cermat  agar  tidak terjadi kesalahan dalam menentukan penelitian. Prosedur pemilihan desain penelitian disajikan dalam bentuk bagan oleh Nursalam (2003: 81) sebagai berikut.







D. Tipe-Tipe Desain Penelitian
Secara garis besar ada dua macam tipe desain, yaitu: Desain Non- ekperimental dan Desain Eskperimental. Faktor-faktor yang membedakan kedua desain ini ialah pada desain pertama tidak terjadi manipulasi variabel bebas sedang pada desain yang kedua terdapat adanya manipulasi variabel bebas. Tujuan utama penggunaan desain yang pertama ialah bersifat eksplorasi dan deskriptif; sedang desain kedua bersifat eksplanatori (sebab akibat). Jika dilihat dari  sisi  tingkat  pemahaman permasalahan  yang  diteliti,  maka  desain  non- eksperimental menghasilkan tingkat pemahaman persoalan yang  dikaji pada tataran permukaan sedang desain eksperimental dapat  menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih mendalam. Kedua desain utama tersebut mempunyai sub-sub  desain  yang  lebih  khusus.  Yang  termasuk dalam  kategori  pertama desain penelitian deskriptif, desain penelitian korelasional,     Sedang yang termasuk dalam kategori kedua ialah percobaan di lapangan (field experiment) dan percobaan di laboratorium (laboratory experiment)


1. Desain Penelitian Non-eksperimen a.  Desain Penelitian Deskriptif
Penelitian deskriptIf dilakukan dengan tujuan untuk mendiskripsikan  atau  menggambarakafakta-fakta  mengenai populasi secara sistematis, dan akurat. Dalam penelitian deskriptif fakta-fakta hasil penelitian disajikan apa adanya. Hasil penelitian deskriptif sering digunakan, atau dilanjutkan dengan dilakukannya penelitian analitik. Desain penelitian deskriptif dibedakan menjadi dua : desain penelitian studi kasus dan desain penelitian survai (Nursalam, 2003: 83-84).
1)  Desain penelitian studi kasus
Studi kasus merupakan rancangan penelitian yang mencakup pengkajian satu unit penelitian secara intensif, misalnya satu pasien, keluarga, kelompok, komunitas, atau institusi (Nursalam,  2003  :  83).  Karakteristik  studi  kasus  adalah subjek yang diteliti sedikit tetapi aspek-aspek yang diteliti banyak.
2)  Desain penelitian survai
Survai adalah suatu desain penelitian yang digunakan untuk menyediakan     informasi     yang     berhubungan     dengan






2)  Desain penelitian kasus kontrol
Desain  penelitian  kasus  kontrol  merupakan  kebalikan  dari desain penelitian kohort, dimana peneliti melakukan pengukuran pada variabel terikat terlebih dahulu. Sedangkan variabel bebas dteliti secara retrospektif untuk menentukan ada tidaknya pengaruh pada variabel terikat.  Desain penelitian kasus kontrol
secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut.

d.  Desain Penelitian Tindakan
Penelitian  tindakan  atau  action  research  merupakan  penelitian yang bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan  langsung  di  dunia  kerja  atau  dunia  actual  yang  lain (Sumadi Suryabrata, 2000 : 35).
Penelitian tindakan mempunyai ciri-ciri : 1) praktis dan langsung relevan untuk situasi actual dalam dunia kerja, 2) menyediakan kerangka kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan-perkembangan baru, 3) fleksibel dan adaptatif, dan 4) memiliki kekurangan dalam  hal  ketertiban ilmiha  (Sumadi Suryabrata, 2000 : 35).


Secara skematis desain penelitian tindakan dapat divisualisasikan sebagai berikut.




KONDISI
PRA PENELITIAN                   INTERVENSI

KONDISI PASCA  PENELITIAN





Bagan 8 : DESAIN PENELITIAN TINDAKAN




4. Desain Penelitian Eksperimen
a.  Sistem notasi

Sebelum membicarakan desain dan eksperimental, sistem notasi yang digunakan perlu diketahui terlebih dahulu. Sistem notasi tersebut adalah sebagai berikut (Sarwono, 2006) :

X  : Digunakan untuk mewakili pemaparan (exposure) suatu kelompok yang diuji terhadap suatu perlakuan ekspe- rimental pada variabel bebas yang kemudian efek pada variable tergantungnya akan diukur.


O  :    Menunjukkan adanya suatu pengukuran atau observasi terhadap variable tergantung yang sedang diteliti pada individu, kelompok atau obyek tertentu.

R  :    menunjukkan bahwa individu atau kelompok telah dipilih dan ditentukan secara random..


b.  Jenis-jenis desain ekperimental
Ditinjau berdasarkan tingkat pengendalian variable, desain penelitian  eksperimental  dapat  dibedakan  menjadi  3,  yaitu  :  a. Desain penelitian pra-eksperimental, b. desaian penelitian eksperimental semu, dan c. desain penelitian eksperimental sungguhan (Nursalam, 2003 : 87).
1)  Desain penelitian pra-eksperimental
Desain penelitian pra-eksperimental ada tiga jenis yaitu 1) one-shot case study, 2) one-group pre-post tes design, dn 3) static group design (Suryabrata, 2000 : 55; Nursalam, 2003 :
87).
a)  One-shot case study
Prosedur desain penelitian one-shot case study adalah sebagai berikut. Sekolompok subjek  dikenai perlakuan tertentu    (sebagai variable bebas)  kemudian dilakukan pengukuran terhadap variable bebas. Desain penelitian ini
secara visual dapat digambarkan sebagai




SUBJEK
PRA
PERLAKUAN
PASCA


1 KELOMPOK


-


X


O


Gambar 4 : DESAIN PENELITIAN ONE-SHOT CASE STUDY


b)  One group pretest-posttes design
Prosedur  desain  penelitian  ini  adalah  :  a)  dilakukan pengukuran  variable   tergantung  dari   sat kelompok


subjek (pretest), b) subjek diberi perlakuan untuk jangka waktu tertentu (exposure), c) dilakukan pengukuran ke-2 (posttest) terhadap  variable bebas,  dan  d)  hasil pengukuran  prestest  dibandingan  dengan  hasil pengukuran posttes.
Prosedur    one    group    pretest-posttes    design    dapat
digambarkan sebagai berikut.


SUBJEK
PRA
PERLAKUAN
PASCA


1 KELOMPOK


O


X


O

Gambar 5 :    DESAIN PENELITIAN ONE GROUP PRETEST- POSTTES


c)  Static Group Comparison

Desain ketiga adalah static group comparison yang merupakan modifikasi dari desain b. Dalam desain ini terdapat dua kelompok yang dipilih sebagai obj

ek penelitian. Kelompok pertama mendapatkan perlakuan sedang kelompok kedua tidak mendapat perlakuan. Kelompok kedua ini berfungsi sebagai kelompok pembanding / pengontrol. Desainnya adalah sebagai
berikut:



SUBJEK
PRA
PERLAKUAN
PASCA
KEL. EKSPERIMEN

KEL. KONTROL
O

-
X

-
O

O


Gambar 6 : DESAIN “STATIC GROUP COMPARISON


2) Desain penelitian eksperimen semu (quasy-experiment)

Desain penelitian eksperimen semu berupaya mengungkap hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol dan kelompok ekperimen tetapi pemilihan kedua kelompok tersebut tidak dilakukan secara acak (Nursalam,
2003  :  89).  Kedua  kelompok  tersebut  ada  secara  alami. Desain  penelitian  jenis  ini   dapat  digambarkan  sebagai
berikut.





SUBJEK


PRA


PERLAKUAN


PASCA


KEL. EKSPERIMEN KEL. KONTROL


O O


X

-


O O

Daftar Pustaka


Ary, Jacobs, dan Razavieh. (2000)     Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. (Alih Bahasa : Arief Furchan). Surabaya : Usaha Nasional.


Brokopp, Dorothy Young dan Tlsma, Marie T.H.   (2000)   Dasar-dasar Riset Keperawatan. (Alih Bahasa : Yasmin Asih dan Aniek Maryuni)  Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Dempsey, Patricia Ann dan Dempsey, Arthur D. (2002)   Riset Keperawatan : Buku Ajar dan Latihan (Alih Bahasa : Palupi Widyastuti). Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Djarwanto.  (1994)  Pokok-pokok Metode Riset dan Bimbingan Teknis Penulisan
Skripsi. Yogyakarta : Liberty.


Johnson, R. Burke. (2005)  “Educatioal Research : Quantitative and Qualitative” Internet : www.south.edu/coe/bset/johnson .


Machfoedz, Ircham. (2007) Metodologi Penelitian: Bidang Kesehatan, Keperawatan, dan Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya.
Mohammad Nazir. (1998) Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia. Moleong, J. Lexi. (2002)   Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : Remaja
Karya.


Sarwono,  Jonathan.  (2006).  “Metodologi  Penelitian”.  www.psend.users. com/
jsarwono.


Sudarwan Danim dan Darwis (2003)   Metode Penelitian Kebidanan : Prosedur, Kebijakan, dan Etik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Suharsimi Arikunt (2002)   Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta : Rineka Cipta.


Sudjana,  Nana  dan  Ibrahim.  (2001)    Penelitian  dan  Penilaian  Pendidikan.
Bandung : Sinar Baru Algensindo.


Sukardi.      (2004)      Metodologi  Penelitian  Pendidikan   Kompetensi  dan
Praktiknya. Jakarta : Bumi Aksara.


Sumadi Suryabrata (2000)   Metodologi Penelitian. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.



Trochim,  William,  M.K.  (2005)       Research  Methods  Knowledge  Base.” Internet: www.socialresearchmethods.net.